CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 23 Juni 2013

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?



Aku mencoba memejamkan mata, namun insomnia tak hentinya menyerangku. Tubuh letih yang butuh istirahat ini pun menyerah pada keadaan. Tak bisa dipaksakan.

Mencari-cari kesibukan, aku berselancar di dunia maya, bermain-main di taman hiburan yang mengatasnamakan dirinya social media. Dimulai dengan membuka twitter, tempat segala macam orang menumpahkan isi hati, pemikiran dan ide-ide yang membanjiri otaknya.

Tak memuaskan, kembali aku mengetikkan sesuatu di ponselku. Alamat blog kekasihku. Ia adalah seorang penyair amatiran yang karyanya mampu membuaiku dalam hangat cumbuan. Kosong. Sudah pasti karena kesibukannya akhir-akhir ini, tak sempat lagi ia membuat postingan baru.

Tak ada pilihan lain. Iseng aku mengetikkan 1 kata di laman pencarian google : facebook. Sengaja ku buat proses ini menjadi lama dan panjang, sekalian membuang waktu. Kumasukkan alamat email dan passwordku.

Sebuah notifikasi membuatku mataku membelalak, semakin menjauhkan angan tidur pulas.

'It's Adimas Rangga Dwiputra's birthday today!' 

Nama itu! Nama seseorang yang pernah begitu melekat dalam ingatanku, tiap susunan abjadnya terhanyut lembut oleh aliran darahku dan berlabuh mulus pada tiap sendi tulangku. Mas Rangga.

Sekelebat kenangan masa lalu menyeruak. Tak mengenakkan.

Kututup segera akun facebookku. Tak kuasa ku bendung lautan air yang mencoba menyeruak keluar dari mataku. Mas Rangga, pernah ada, namun kini hanya tinggal sebuah nama.

Sebuah ketukan halus membuyarkan lamunanku.

"Linda?", sapa sebuah suara.
"Ya?"
"Belum tidur?"
"Mas Rasyid? Mas, kok boleh masuk? Emang gak dimarahin Papa?", kuhamburkan pelukan ke dada bidang kekasihku itu.
"Engga sayang. Masmu ini kan calon menantu idaman ayahmu.", godanya centil.
"Dih! Apa sih mas. Aneh. Ahahaha."
"Eyyy, tadarrrr. Surpriseee! Happy 21th birthday, honey!"

Sebuah kejutan mini. 3 buah cupcakes. Dengan sebuah lilin masing-masing di puncaknya.

"Happy Birthday!" 3 buah cupcakes warna-warni tak lupa lilin manis disodorkan ke hadapanku.
"Aaak! What a gorgeous surprise, mas! Mihihi. So, where's my birthday kisses?", tuntutku pada si mas.
"Here they are for you, the one and only." , ucapnya sembari menghujani pipi, kelopak mata dan bibirku dengan kecupan lembutnya.
"Mas..."
"Apa sayang, my lovely birthday-girl?"
"Sejak kapan kamu jadi lebay gini deh mas. Udahan ah. Aku serius. Sejak kapan kamu mempersiapkan surprise ini?"
"Ehehehe... That's not your business, dear. It's my own secret. Are you happy with that?"
"I am the happiest birthday girl ever in this earth so far!"
"Ahahhaha. And you'll always be. I promise. Untuk kamu, apa sih yang enggak boleh?", lagi-lagi jurus gombal paling memuakkan dihujaninya padaku. Ahahaha. Lelaki ini, milikku satu! Harus! 
"Eiya, ulang tahun kita kan samaan. Ahahaha. We are Gemini. Happy Birthday, too, mas Ranggaku!", kupeperkan mousse dari salah 1 cupcake dihapadanku. Dibalasnya hingga aku tak kuasa menahan tawa anehku. Ahahaha, semesta harus setuju bahwa kami ditakdirkan satu! 

Aku berusaha menguasai diriku, menatap ke tatapan terhangat lelakiku.

"Makasi banyak mas... Peluk aku!", tuntutku lirih pada Rasyid, lelakiku kini.

Selamat ulang tahun mas Rangga. Bahagialah selalu disisi-Nya.


NB : 
inspirasi : #13HariNgeblogFF #telatbanget #cenderungbasi :D
*ehehe, ini judul terpanjang yang pernah saya pake, apadaya emang ditentuinnya begitu :)


Senin, 17 Juni 2013

Penjaja Dara



"Seperti udara, kasih yang engkau berikan...Tak mampu ku membalas...Ibu..."
Di dunia ini, tak ada hal lain yang lebih membahagiakan bagi seorang anak daripada mampu memberikan yang terbaik darinya kepada kedua orangtuanya. Semenjak lahir, aku tak pernah mengenal siapa ayahku. Meninggal di medan perang. Hanya emak satu-satunya sahabat karibku.

Cita-citaku sederhana, menikah dengan pangeran lalu membelikan emak daging ayam.

Aku menatap nanar kepada pemandangan di sekitarku. Ini bukan gayaku pun tempatku yang sesungguhnya. Meski harus kusadari, cinta sejati tak sekedar dari hati, pun harus memberikan pengorbanan yang berarti...

Toko kelontong milik emak makin hari makin sepi. Deretan mini market semarak di sepanjang jalan raya bahkan kini tak luput bertengger di depan gang-gang rumah warga. Himpitan ekonomi makin menyengsarakan dapur rumah tangga keluarga kaum papa.

Tiap malam tanpa pernah disadarinya, aku selalu mendengar namaku dilafalkan dengan mirisnya oleh emak, berharap berkah melimpah turun atas aku anak satu-satunya, tumpuan segala harapannya.

Sekali lagi kuedarkan pandangan ke sekeliling. Kilatan mata bengis menatapku. Miris.

'Ya Tuhan, bayi kecilku ini milik-Mu. Maafkan hamba yang tak mampu membahagiakannya lahir batin.' 
Doa ibu. Selalu begitu. Tak sadarkah ia bahwa ucapannya adalah doa yang akan selalu mengiringi langkah kedua kakiku? Tak pernah bahagia? Demi Tuhan emak aku bahagia, asal kau selalu sehat dan menemaniku setiap waktu.

Kembali aku memusatkan pikiranku ke hamparan pemandangan asing di hadapanku. Wajah-wajah yang tak mengenal lelah mencari nafkah, meski harus melupakan perintah Allah.

Ku langkahkan kaki dengan mantab. Kuketuk pintu yang catnya mulai memudar.

"Siapa?", tanya suara dari dalamnya.

"Saya butuh uang.", jawabku takut-takut.

"Sini, masuk!", perintah suara dari dalam. Berat dan arogan.

Wajah emak kembali terlintas di benak. Sabar mak, kita akan makan ayam rebus besok pagi. Aku janji.

Ku buka pintu neraka itu dengan perlahan. Seorang pria tambun dengan kaus kutang dan celana boxer duduk santai di atas kasur, pemandangan pertama yang kuterima. Wewangian aneh langsung menyeruak kala kepalaku mengintip ke dalamnya.

"Astaga! Masih belia. Aha....masih ranum rupanya. Pintar kali Margaret carikanku 'barang.'", senyum menjijikan tersungging dari balik kumisnya. Botak, gendut dan bagai macan kelaparan yang siap menerkam mangsanya.

"Saya butuh uang. Buat makan emak. Berani bayar berapa?", tegasku.

"Bisa kita nego nanti. Yang penting, kemari. Mendekat sayang."

'Nduk... Harga diri seorang wanita itu ada pada kesuciannya. Jaga baik-baik nak. Demi kebahagianmu lahir-batin kelak.', pesan emak pada suatu malam. Saat aku berbaring di pahanya sembari disisirinya rambut panjangku.

"Beri saya tiga ratus ribu. Emak harus makan enak!", perintahku.

"Jangankan segitu, tiga juta punku kasih! Asal kamu sama aku terus. Bagaimana?", tawar pria  -yang disebut sebagai Om Bambang oleh tante Margaret,adik kandung emak- sembari menciumi leherku.

Bukankah Tuhan mencintai orang-orang yang tulus hati-Nya? Demi emak, sepenuh hati aku menyerahkan harta terbesarku kepada pria yang lebih pantas jadi ayahku. Demi emak, aku melupakan mimpiku kelak bersanding dengan pangeran tampan yang menjadikanku ratu sejagatnya. Demi emak...
Tuhan, jika memberi harus dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas, berlakukah juga kepadaku, sang penjaja dara?

"Iya om.", ucapku.

Quote : "Ibu" - Iwan Fals

Jumat, 14 Juni 2013

Sesosok Bidadari dan Secangkir Kopi


Coffee shop terbiasa memutar lagu Sabrina dan lagu datar lainnya. Ah, aku datang untuk memanjakan diri, bukannya menyakiti telingaku dengan lagu-lagu tolol datar macam itu! Namun coffe shop yang kukunjungi kali ini berbeda. Sebuah lagu anak-anak yang beranjak remaja melintas di telingaku. Dan benar saja, Stardust, nama coffe shop yang ku kunjungi kali ini memutar lagu paling gombal yang lebih melayu dari band-band lokal tak jelas genrenya. Ahahaha sinting!

"Kau bidadari... jatuh dari surga.. di hadapanku. Eaaa.
 Kau bidadari... jatuh dari surga.. pas di hatiku. Eaaa!"

Ah perempuan dewasa mana yang akan tersentuh hatinya dengan lagu menjijikan macam itu. Muak yang ada. 

Aku memalingkan pandangan, menyapu setiap inci ruangan dengan pandangan mataku. Kaca besar yang menghalangi pandanganku ke luar ruangan ini, mencuri perhatianku. Sesosok lelaki muda, usia dua-puluhan melangkah ke coffee shop tempatku bertengger sekarang. Muda, penuh gairah dan sensual. 

Entah karena ketidaksengajaan atau karena kelihaian tangan Tuhan yang memainkan kami sebagai puppetnya, pria muda ini seakan menyadari tatapanku, pun berbalik menatapku lekat. Dan dengan atau tanpa disadarinya, ia berjalan menuju sofa tempatku bersantai.

"Heiii bidadari!", sapanya riang. Aku tertegun, bersemu bukan kepalang. Dengan siapa ia berbicara? Refleks aku melihat ke belakang. Tak ada orang. Akukah itu?

"Hei! Iya kamu! Haaai Bidadari. Kemana saja?", tawanya renyah. Aku terdiam.

"Kamu ngomong sama saya?", tanyaku terbata-bata.

"Iya. Kamu! Bidadari jaman sekarang nongkrongnya di coffee shop toh. Khayangan sepi dong!", candanya jayus.

"Terhenyakku melihat matanya. Teduh menatap diriku.
Tak terasa kita pun berbincang, mencoba saling mengenal..."

Ia masih terus saja bertutur, tentang kehidupannya, tentang mimpi-mimpinya bahkan tentang kehidupan percintaannya. Seperti pernah terasa begitu familiar sosok satu ini, tapi entah dimana.  

"Tergelitik rasa di hatiku, tuk bertemu dengannya lagi.
Kita kan bercanda bercerita, segala impian kita..."

Ia suka membaca novel, pun denganku. Bahkan tanpa sengaja kami berseru bersamaan menyebutkan nama novelis favorit kami. Pun dengan genre. Juga dengan instrumen musik yang terbengkalai bak bangkai, tak pernah tersentuh oleh jemari kami yang lebih sibuk menari di keyboard laptop, menuangkan ide kami ke dalam tulisan.

Ah Tuhan itu apa sih mau-Nya? Kenapa di saat seperti ini! Baiklah, keajaiban Stardust! Tidakkah itu judul yang tepat untuk pertemuan singkat kami dengan segala sensasi kesan dan getaran yang ditimbulkan?

"Hei bidadari! Kok bengong? Diseruput atuh kopinya, dingin nanti.", godanya lagi.

"Ahahaha. Nice to meet you.", tutupku lembut. Aku tak boleh berlama-lama dengannya! Bahaya! Mama bilang : never talk to strangers. Sedangkan dia? Baru sejam bercerita, sudah mampu membuatku tergila-gila bukan kepalang.

"Nice to meet you too, mrs. Angel. It's your own name, isn't it?"

"Yeah, it's me. Well... I have to go." Buru-buru kutegak minumanku yang sudah mendingin.

"Can't wait for the next meet up! Keep my heart save!" gombalnya mengenaskan.

Ya! Ia tampan, mempesona dan demi Tuhan sungguh menggairahkan. Inikah jawaban dari segala doa, penantian dan harapan? Sesosok menawan yang mampu membuat hasrat untuk memilikinya semakin tak tertahankan?

Tuhan, adakah lelaki ini masterpiece-Mu? Sumpah mati aku menyukainya. Sejak pandangan pertama.

Pintu Stardust membuka. Kali ini gemerincing belnya mampu menyadarkanku dari lamunan.

"Maaf sayang aku lama jemputnya. Macet banget tadi. Udah? Mau pulang sekarang?", sosok yang tengah terengah itu menghampiriku, mengusap lembut kepalaku, tak lupa kecupan ringan di kelopak mataku. 

"Namun aku takut, bila nantinya. 
Aku jatuh cinta lagi.
Walau itu indah... Dan ku pun inginkan."

"Hei! Temennya Angel? Gue Gasa.", sapa lembut Gasa ke sosok yang sempat terlupakan keberadaannya. Ia masih disitu, sempat melihat perlakuan lembut kekasihku yang tak mungkin ku lepaskan begitu saja.

"Eh... Hai. Revan. Gue duluan. Bye bidadari...", pamitnya lusuh.

"Bidadari?"

"Dan lagi-lagi ku enggan, kala ingat kekasihku...
Walau bukanlah salahku. Untuk cari yang terbaik!"



*Terinspirasi dari tugas translating si mas.
*Lagu : - Eaaa - Coboy Junior
           - Aku Takut Jatuh Cinta Lagi - Reza Artamevia

Senin, 20 Mei 2013

Malam Tak Bertuan



Jika bulan bisa berbicara, ia pasti akan menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu. Sayang, malam terlalu mengekang sang bulan, hingga setitik sinarnya pun tak tampak diselimuti kegelapan. Hanya malam tak bertuan yang bersaksi, aku tak lagi ingin bersama dengan kekasihku!

"Aku mau kita udahan. Aku lelah dengan sikap kamu. Posesif. Menuhankan pemikiranmu! Mengira kamu yang paling tahu segalanya, bisa memahami aku apa adanya. Aku benci keadaan kita!" hujatku tanpa titik.

"Ada apa dengan kita, Ratna. Aku sayang sama kamu! Kita! Kamu kenapa?"

"Aku benci kamu. Persetan! Aku benci kita.", sentakku ketus.

Galuh berusaha menarik lenganku pun merengkuhku ke dalam dekapannya. Aku memberontak. Aku lelah dengan sikapnya. Mengapa setiap pertengkaran panjang kita ia akan datang memeluk dan melumat habis bibirku, seolah tak pernah terjadi apa-apa?

"Aku ingin gak ada lagi 'kita' ke depannya. Putus! Berikan apa yang aku pinta, luh! Please! I'm begging you!" , rengekku putus asa.

"Aku janji aku akan berubah. Aku bersumpah bakal jadi seperti yang kamu mau. Apapun yang kamu minta, aku janji, selagi aku mampu, pasti aku penuhi! Aku bersumpah sayang. Kamu mau apa?", pintanya setengah mampus.

"Aku sayang luh sama kamu. Tapi itu dulu. Sekarang udah enggak. Aku mau bubar. Putus udahan!"

"Demi Tuhan yang aku sembah, aku akan mengabulkan seluruh keinginanmu, Ratna. Selama aku mampu. Beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan untuk bisa menahanmu di sisi, bahkan hanya sebentar saja?"

Bagai kilat di tengah malam, tanpa pertanda yang pernah mengingatkan kehadirannya, aku menatap langit kala itu. Hening.

"Aku cuma mau satu hal, luh. Satu aja."

"Apa sayang? Apa? Apa?", ku lihat wajah Galuh menyiratkan secercah harapan.

"Putusin aku luh."

"Kenapa? Ada apa kah kalau aku boleh tau?", harapan yang tersirat di wajahmu berangsur hilang.

"Aku akan menikah. Bulan depan. Secara siri."

"Siapa yang dengan brengseknya akan merembutmu dari aku, Na? Kurang ajar! Bajingan!"

"Jangan pernah membencinya luh. Demi Tuhan aku bilang jangan pernah membencinya!"

"Kenapa? Siapa? Aku tanya! SIAPA?"

"Aku hamil. Ayah biologis dari janin dalam kandunganku adalah Mario Susilo, ayah kandungmu!"


Minggu, 28 April 2013

Ayah dan Anak Perempuannya




Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, atau yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
 

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
 

Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya.” Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
 

Tapi sadarkah kamu?
 

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
 

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang.”
 

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
 

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah dibilang! Kamu jangan minum air dingin!”.
 

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
 

Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
 

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
 

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
 

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu? Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
 

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
 

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
 

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
 

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut… Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
 

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa.”
 

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
 

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
 

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.
 

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…. dan kamu harus pergi kuliah di kota lain… Papa harus melepasmu di bandara.
 

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
 

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
 

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
 

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
 

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
 

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
 

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
 

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
 

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
 

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
 

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
 

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
 

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
 

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.
 

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
 

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
 

Karena Papa tahu…..
 

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
 

Dan akhirnya…. Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
 

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
 

Papa menangis karena Papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
 

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
 

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
 

Papa telah menyelesaikan tugasnya….
 

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita… Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
 

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
 

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
 

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanitaku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !
 

Yups, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.
 



Sumber : enterkey.



Sabtu, 20 April 2013

Project #Daku


Cinta itu katanya buta. Ah, bodoh yang bilang begitu. Cinta itu indah tanpa perlu menggunakan indera penglihatan, cukup dirasakan dan dipahami. *smirk*

Sama seperti kamu. Indah? Ah, jangan! Kamu kan lelaki. Kamu itu rubah. Iya, binatang rubah. Kamu bisa jadi menyeramkan di satu sisi, tapi sangat melindungi di sisi lain.

Mata
Kamu punya mata yang bisa membuat aku terdiam dengan aku kedipan centil, setelahnya...terpingkal-pingkal menyadari ekspresi tololmu itu.

Telinga
Kamu adalah salah seorang pendengar yang baik bagi bibirku yang tak henti-hentinya bertutur kisah, ya walaupun aku yakin 100% 'Oiya?...Terus? Terus?' mu itu hanya supaya aku bahagia dan tak marah karena merasa dikacangin. :)

Bibir
You are an anti-mainstream boy! Dan kalimat "Kekurangan adalah kelebihan." punya kebanyakan orang itu gak berlaku di kamu. Dengan proposisi bibir yang serba kelebihan itu, Angelina Jolie pun bakal mutar otak berkali-kali biar gak kalah eksotis sama kamu!

Bisep
Bahkan seorang Narcissius akan bertekuk lutut dengan kenarsisanmu yang selalu merasa "Ya gue lah cowok paling eksotis! Coba tanyain deh wc letaknya dimana?" dan sejurus kemudian kamu bakal meragain aksi 'pamer bisep' sembari sok menunjuk suatu arah. Ahahaha!

Dan cuma kamu yang punya keahlian membuat gadis-berusia-20-tahun sepertiku mesem-mesem ala-ala ABG labil. -_-" *ketjup djitak djidatmu*


NB : @wira_panda di Project #DAKU

Minggu, 07 April 2013

Aku & Laut



Jika ada yang bilang sendiri itu bosan, berarti ia tak pernah mencintai dirinya dan ke'aku'annya.

Aku dan lelakiku menyukai kesendirian. Hei, kami adalah dua ke-aku-an yang menjadi satu dan menyatu, meski saling berpijak di dua kapal yang berbeda.

Laut adalah taman bermain tempat kami biasa berkencan. 

Meski kapal kami berbeda, aku terbiasa untuk menggenggam jemarinya dengan jarak yang membentang, yang kira-kira cukup untuk dilalui seekor lumba-lumba cantik.


Hei, aku tidak sedang bergurau. Aku memiliki seorang kekasih yang harus kupantenkan kepemilikan atasnya. :)

Kami memiliki dua nahkoda yang berbeda, yang jelas-jelas selalu saling menjauhkan kapalnya masing-masing.

Sedikit belaian halus di telapak tangan dan kecupan lembut di dahiku adalah hadiah manis yang sering ia titipkan pada burung hantu kikuk peliharaanku. 

Maklum saja, tiap kami hendak saling menggenggam jemari satu sama lain, ada saja tingkah konyol Dewa Neptunus untuk menghalangi keceriaan kami. Belum lagi sang Ratu Pantai Selatan yang tetiba muncul dari belakang, menghancurkan nuansa romantisme yang hampir mempertemukan bibir kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Ah laut!



Laut mengajarkanku banyak hal. Tentang ketenangan paling damai yang bisa manusia cicipi, tentang romantisme yang tak mengenal waktu dan tentang keheningan di tengah gemuruh badai.
 Juga tentang keindahan yang perawan dan sungguh senantiasa menawan.

Namun dari semua hal yang laut berikan, ada satu pelajaran berharga yang paling terngiang di benakku, yaitu ketika 'menyendiri tak berarti sendiri'. Aku banyak melihat para mahluk laut yang beriringan, berpasang-pasangan, juga langit dan ujung laut yang selalu terlihat menyatu kala matahari bersembunyi ke dasar laut, ataupun angin yang selalu bercinta dengan layar kapal.


Mereka semua adalah mahluk yang tercipta sendiri. Terkadang saling menyendiri. Adakalanya kapalku terasa tenang nan statis, meski sebetulnya ia bergerak dengan tempo yang lambat.

Atau ketika seekor paus harus terdampar ke bibir pantai, sendiri dan sepi. Ah, betapa malang nasibmu, kawan.

Pun aku dan kekasihku. Laut kerap kali memisahkan kami. Namun begitu, genggaman tangan kami masih menyatu.

Terkadang, kami harus berdiri sendiri, tapi angin masih berpihak pada kami, memaksa kapal kami beriringan, menimbulkan sedikit pertengkaran sengit di antara nahkoda kami dan membiarkan kedua bibir kami saling terpaut kembali, mengunci lidah-lidah kami menjadi satu.


Lopinta Rumengan
Sabtu, 6 April 2013
Foodcourt Plangi, 2:39pm