CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 14 Januari 2013

Pukul 2 Dini Hari



Masih teringat dalam benakku bagaimana sulitnya aku memilih nomor ponsel yang katanya ‘cantik’. Aku sudah menyiapkan budget, tapi entah kenapa yang tersisa hanyalah tinggal 1 nomor ‘cantik’ yang sayangnya harus berakhiran 666. Ish! Itu kan angka…? Hiii serem! Tapi ya, percuma kan hp kece kalau nomornya kurang menarik? Ahahaha!

Hei, aku punya seorang kekasih yang jika dalam bahasa Inggris selalu ku teriakkan padanya : “Hei Mr. Galang, You know what? I love, like, need, want and even really adore you!” Sempurna banget kan rasaku ini untuknya? Eh tapi tunggu, lagi-lagi huruf G itu bukannya kalau ditulis sedikit kegaulan bin alay jatuhnya malah jadi angka 6 ya? Ya terus kenapaaa?

Ada yang berniat mengetahui tanggal ulang tahunku? Siapa tahu saja bersedia memberikanku hadiah cantik, misalnya? Harap dicatat dan diingat ya, aku terlahir pada tanggal 6 Juni 1993. Angka cantik kan? Ehehe. Kata mama, aku terlahir normal, yang berarti aku memang ingin dibrojolin saja pada saat itu. tanggal enam bulan enam di tahun yang jika kedua digit terakhirnya dikurangi maka menghasilkan angka 6 lagi yang itu berarti…? Fiuh, lagi-lagi angka 6 dan triple 6 kan? Nah!  

“Hai Chacha sayang! Eh, kamu udah ngerjain tugas belum?”, teriak suara diseberang telepon sana.

“Hola Galang. Kamu dimana deh? Kok teriak-teriak?”, jawab Chacha tak kalah kencangnya. Bagi Chaha si perempuan yang notabene bersuara melengking wajib mengarahkan seluruh tenaga kalau harus beradu dengan suara tenor milik Galang.

“Di hatimu!”, goda Galang.

“Norak! Norak! Katrok!”, sentak Chacha cepat.

“Ahahahaha… Eh cha. Tebak deh. Tanpa disengaja ya, masa sekarang kita teleponan pas jam 6 sore, gitu cha! Denger gak ada adzan maghrib gitu kan?”

“Eh iya, ya. Yaudah deh. Daaaa Mr. Six.”

“Hah? Apaan tuh?”

“Kamu kan pacarku. Nah, akunya Ms. Six. Gak inget ya segala hal yang berkenaan dengan aku pasti gak jauh-jauh dari angka 6, iya kan?”, manjaku.

“Eia. Ya sudah gih, sana. Bukannya kamu harus les piano ya?”, usirnya lembut.

“Iya. Nyebelin ya. Masa malam-malam harus les piano sih? Bikin ngantuk. Mending kalo piano jazz, pop atau koplo kek gitu. Niat banget sih si mama masukkin aku ke kelas piano klasik! Emang lagunya Mozzart mau disenandungin? Hih!”

“Ahahaha. Jangan ngeluh terus. Jalanin aja. Goodluck, Ms. Six. Ahahaha! Love you!”

Miss you already. Smoochy smoochy.”, ucapku menutup pembicaraan di telepon.

Begitulah hari-hari dan kehidupanku. Selalu dipenuhi dengan rangkaian angka 6. Tapi toh siapa yang peduli? Ini kan hidupku. Sama seperti setiap 6 detik sekali nama Galang selalu melintas seenak jidat di benak aku, atau setiap hari berturut-turut setiap Senin hingga Jumat ditambah hari Sabtu ataupun Minggu yang mewajibkan kami bertemu terus menerus. Ehehehe, kenapa 6 bukan 7? Karena cinta kan butuh libur, biar ada kangennya juga, kan?

Aku menyadari bahwa rangkaian triple 6 itu memang angka keramat. Angka Dajjal dan Lucifer. Tapi ya ampun, demi keagungan dan kebahagiaanku, aku bersumpah akan mengkhianati Tuhanku jika itu membuatku bahagia kok. Hmmm, menghabiskan sisa hidupku bersama dengan lelaki yang paling kita cintai di muka bumi, bukankah itu impian setiap perempuan?

Pendetaku pernah berkata bahwa Tuhan tidak pernah menyuruh umat-Nya memeluk agama tertentu, yang Ia minta hanyalah “Ikutlah aku!”. Nah, iya, aku mengikuti-Nya kok. Aku memasrahkan seluruh jiwaku pada-Nya. Tapi tidak dengan hatiku. Eh, hatiku juga bagi-Nya kok. Aku ikuti seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Bukankah aku umat-Nya yang baik?

Tapi tunggu… Apakah mengikuti Tuhan juga harus menyerahkan hatiku seutuhnya bagi kemuliaan nama-Nya? Wah, kalau hatiku, sudah ku persembahkan khusus bagi Galang. ‘Hmmm, Tuhanku sayang, demi lelakiku, aku akan mengikuti kemanapun ia pergi. Maaf ya. Itu ikrarku.’

Lamunanku tentang pernikahan sederhana nan kudus sedang memenuhi anganku ketika rasa kantuk menyerangku. Aku tertidur dan mimpiku sangat indah. Galang menghampiriku dan tersenyum indah. Ah Tuhan, apa aku bilang? Galang itu indah bukan kepalang. Aku bersumpah akan menghambakan hatiku pada lelakiku seorang. Ehehe. Agak over dramatis, ya?

Drrrrt. Drrrrrrt. Pukul 2 lewat 6 menit dini hari. Sebuah pesan masuk ke ponselku.

Innalillahi wa'inaillaihi roji'un.Telah berpulang ke sisi Tuhan, anak, saudara, sahabat terkasih kita, Galang Maheswara pada pukul 2 dini hari. Semoga kita yang ditinggalkan diberi ketabahan dan Galang terkasih diberi tempat terbaik disisi-Nya.’

Kala membaca pesan itu, entah mengapa aku tidak terkejut. Bahkan air mata seolah enggan membasahi pipiku. Satu hal yang aku tahu : Tuhan pencemburu. Hih, aku kan bukan anak-Nya! Aku ini anak Lucifer, bukan? Lihat saja, segala hal di dalam hidupku selalu berkaitan dengan triple 6. Kenapa harus cemburuan, sih? Kenapa harus merebut kebahagiaan orang lain sesuka hati-Nya? Curang!  


NB : #13HariNgeblogFF @momo_DM @WangiMS

Perempuan Tanpa Nama



Kala itu, matahari tampak takut-takut menunjukkan wajahnya. Awan hitam mengikuti irama angin, berjalan lambat menuju satu titik yang tak pernah ada yang tahu ujungnya. Langit diliputi kelabu pun mahluk-mahluk penghuni bumi terburu-buru mencari tempat berteduh. Mereka dengan keagungannya bahkan bisa sebegitu takut dengan bulir-bulir hujan.

Hanya ada sesosok manusia yang tak terpengaruh akan hal itu. Perempuan tanpa nama. Tak pernah ada yang tahu sejak kapan keberadaannya di bangku taman itu. Tak pernah ada yang peduli dengan perihal yang membuatnya sulit menyunggingkan sebuah senyum indah walau hanya sedetik. Perempuan cantik tanpa nama yang mungkin saja gila karena tak pernah bersuara.

Apa yang para manusia itu takuti pun akhirnya terbukti. Dewa Langit menjatuhkan air  matanya, entah Beliau sedang berduka karena apa. Bagi perempuan tanpa nama itu, tak pernah ada yang lebih rapuh dari padanya. Ia tahu, bahkan satu titik air hujan yang menjatuhi ubun-ubunnya, mampu memporakporandakan serakan hatinya yang telah berupa puing-puing.

“Hai! Bolehkah aku duduk sini?”, sapa sebuah suara. Perempuan tanpa nama tak menggubrisnya sedikitpun.

“Namaku Gregorius, cukup kau panggil Gregy.” Riang, kesan pertama yang tergambar dari sosok berjakun ini.

Perempuan tanpa nama pecinta hening. Ia hanya bungkam.

“Ada apa denganmu? Kenapa hujan-hujanan seperti ini? Kau bisa sakit.”

“Bukan urusanmu! Diam dan menjauh dari saya!”, ketus perempuan tanpa nama. Untuk pertama kalinya ia gunakan kembali pita suaranya yang sempat lama berhibernasi.

Alih-alih menjauh, lelaki itu justru mengulurkan payung hitamnya.

“Kemari. Mendekatlah. Tetesan hujan ini akan membuatmu sakit. Siapa namamu? Adakah sesuatu yang mengganjal hatimu? Mungkin aku bisa  membantu?”, sapa Gregy sangat lembut.

Teng. Teng. Dentang jam gereja dekat taman mulai berdenting.

“Itu! Gerejamu! Pergilah! Aku tak membutuhkan bantuanmu, gerejamu atau bahkan Tuhan tololmu itu!”, maki perempuan tanpa nama.

“Ya Tuhan! … Semoga Allah Bapa mengampunimu. Ada apa denganmu? Mengapa kau berkata seperti itu? Tuhan Maha Pengampun pun Penolong. Datanglah pada-Nya. Ia akan membantumu. Aku pun dengan penyertaan-Nya akan membantumu!”

Tiba-tiba perempuan tanpa nama itu malah tertawa. Tawa yang mengerikan, semacam kumpulan kebahagiaan kekal milik Lucifer.

“Kau tolol! Aku berani bertaruh demi namaku sendiri bahkan engkau dan Tuhanmu itu tidak akan mampu melakukan apapun untukku. Idiot!”, seulas senyum beringas samar tersungging di bibir perempuan tanpa nama.

“Apa yang kau bicarakan? Tuhan itu Raja segala Raja. Mari. Ikut aku. Kita menghadap pada-Nya. Aku yakin sekali dia mampu menolongmu?”, ucap Gregy sembari menggenggam ujung salib Rosario yang dikalungkannya.

“Menolong katamu? Bodoh! Ia tak mungkin mampu!”

“Apa masalahmu? Ia pasti akan menolongmu. Percaya padaku. Aku pun akan membantumu.”

“Hei frater, kau frater kan? Nikahi aku! Ayo! Aku bilang, nikahi aku! Itu adalah pertolongan untukku. Mampukah kau atau Tuhanmu entah siapa itu mampu menikahiku? Aahahaha!”, tawanya makin melengking nyaring.

Frater Gregy membisu. Ia tidak tahu harus menjawab apa pernyataan yang baru saja didengarnya itu.

“Kau dengar itu? Aku hamil. Entah siapa ayah dari anak ini. Aku tak ingat mantan pacarku yang keberapa yang menanamkan benih ini. Kedua orangtuaku malu lalu mengusirku. Aku anak tunggal yang dicoret dari daftar keluarga karena telah mencorengkan tinta hitam diwajah bapak. Nah, sekarang, siapa yang akan menikah denganku demi bayi ini? Kau? Atau Tuhanmu itu? Ahahaha, menikahi Tuhan? Lucu juga. Mungkin namaku akan menjadi termashyur berabad-abad lamanya. Perempuan tanpa nama yang beristrikan Tuhan! Hmm… Ada berapa banyak para pengikut Tuhan? Wah… Apa saja yang mampu mereka persembahkan pada istri Tuhanmu?” 

Senin, 07 Januari 2013

Tanah Tabu



Judul Buku : TANAH TABU
Penulis : Anindita Siswanto Thayf
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2009
Pemenang 1 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 

Ini adalah kutipan-kutipan favorit saya yang saya temukan di dalam buku ini, sebagai berikut : 

“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.” – (cover depan)

“Hidup akhirnya mengajarkan kepadaku hal terindah itu ibarat gundukan daging mentah yang memikat hidung setiap pemangsa lapar. Selalu saja mampu membangkitkan gairah dan nafsu untuk memiliki dan menguasai. Mengambil sedikit demi sedikit demi kepuasaan pribadi. Tidak mau berbagi dengan yang lain. Disimpan untuk diri sendiri.” [Pum] (9)

“Karena hidup itu kejam, Saudaraku, dan kau harus menjadi kejam pula agar bisa bertahan.” [Pum] (9)

“Kenyataan itu akhirnya menyadarkanku untuk tidak lagi terlalu berharap. Apa yang sudah hilang tidak mungkin kembali lagi, meskipun ada yang mengaku telah mencurinya dan berjanji untuk mengembalikannya. Apakah tulang tanpa daging yang telanjang itu bisa berdaging kembali?” – [Pum] (10)

“Dan orang pintar bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik. Lebih makmur dan kaya. Asal kau tahu, itulah mimpi tertinggi setiap orang di dunia ini.” – Mabel (17)

“Wah, hebat sekali burung itu (jumlah bulu di sayapnya 17, di ekornya 8 dan di lehernya 45). Dia bisa terbang dengan hanya 17 bulu di kanan dan kiri sayapnya. Tapi lebih hebat lagi orang yang telah menghitung bulu-bulu itu. Siapa dia?” – Yosi (24)

“Kau tidak bisa membuat pagar rusak di ladang menjadi bagus hanya dengan berharap ada seseorang yang akan dating dan memperbaikinya untukmu. Tapi kau harus berusaha memperbaikinya sendiri sebelum sekawanan babi liar menyerbu masuk dan merusak semua isi ladang.” – Mace (33)

“Kau harus terbiasa melihat sesuatu tanpa menggunakan mata, Nak, melainkan panca inderamu yang lain, seperti hidung. Jangan lupa pula gunakan selalu hati dan pikiranmu.” – Mabel (36)

“Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang, mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.” – Mabel (37-38)

“Ada begitu panjang jalan yang harus ditempuh bersama-sama. Sementara itu, ada sebuah peraturan permainan yang harus dipatuhi pula. Tidak boleh curang. Permainannya harus dimainkan bersama-sama, terus-menerus dan setiap hari, hingga akhir hayat nanti. Tidak ada libur. Selain itu, juga harus berusaha mengatasi setiap masalah yang ada, saling percaya, jujur, saling menghargai dan menghormati. Tidak boleh ada yang merasa harus menang atau dikalahkan. Juga tidak boleh ada yang selalu menjadi nomor satu.” {Tentang Pernikahan} – Mabel (48)

“Menangis hanya membuatku semakin lemah, dan aku tidak mau itu terjadi. Selain itu, aku juga kasihan dengan Tanah Ibu kalau kita terus-menerus menyiramnya dengan mata kita. Air jadi asin. Tanaman tidak bisa tumbuh subur. Binatang di hutan berkurang. Langit pun ikut mendung. Nasib baik tidak akan datang kalau kita menangis terus.” – Mabel (58)

“Aku punya pendapat sebenarnya tidak ada anak-anak yang nakal atau jahat. Mereka begitu karena keadaan. Orang tua  yang kurang perhatian, orang dewasa yang tidak peduli, lingkungan yang tidak bersahabat, atau gabungan dari semua itu.” – [Pum] (60)

“Kukatakan anak-anak itu serupa kapas. Mereka akan menyerap apa pun yang ada di sekelilingnya. Air laut atau air selokan. Putih atau hitam. Baik atau buruk. Aku pun tak heran tatkala mendengar banyak anak perempuan yang bercita-cita menjadi pengantin. Sementara anak laki-laki ingin menjadi yang terhebat. Seorang jagoan. Huh, sungguh pasangan hidup yang rapuh, menurutku. Serupa  manusia dan sandalnya. Gerobak dan rodanya. Raja dan keset kakinya. Yang senang menindas dan yang sukarela ditindas. Suami yang jagoan dan istri yang pengabdi. Hah! Betapa kacaunya dunia jika kebiasaan itu menjadi warisan yang abadi turun-temurun. Para laki-laki yang senang menunjukkan kehebatan dengan sepak terjang pukulan dan makian serta perempuan yang pasrah menerima semua itu.” [Pum] (60-61)

“Ada saatnya seorang pejuang harus mundur. Tapi bukan mundur untuk menyerah, melainkan mempersiapkan penggantinya. Aku menaruh harapan besar padanya. Aku tahu dia mewarisi darahku. Darah pejuang.” – Mabel (62)

“Kuharap ia tidak seperti kebanyakan perempuan di sini. Merasa rumah tempat yang buruk sehingga ingin cepat-cepat pergi dengan cara menerima pinangan. Menikah muda.” – Mabel (63)

“Kalau kau seorang perempuan yang ingin senantiasa menyenangkan suamimu, lebih baik tanggalkan dulu perasaanmu dalam lemari dapur. Kecuali kau ingin hatimu terus-menerus menangis karena perlakuannya yang seolah-olah lupa bahwa kau juga manusia seperti dirinya.” – Mabel (66)

“ Begitulah orang yang lemah. Semua yang ada di dirinya bisa dibeli dengan uang. Tidak hanya badan, tapi juga jiwanya.” – Mabel (90)

“Mana ada orang kelahiran tanah ini mau begitu saja merelakan gunungnya jadi milik orang asing? Tidak ada! Tidak diperjualbelikan. Tanah kita keramat, Nak. Tabu. Diciptakan Yang Kuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya.” – Mabel (90)

“Kubilang kepadamu, itulah mengapa nenek moyang kita sejak dulu hidup sederhana. Apa adanya. Mengambil seperlunya dari alam, dan mengembalikan  sisanya lagi pada alam untuk disimpan sebagai warisan buat anak-cucu. Nak, ada di antara keturunan nenek moyang kita yang justru memberikan warisan kita kepada orang asing. Tidak hanya itu, dia juga malah ikut menjadi seperti mereka.” – Mabel (90-91)

“Banyak orang yang berbicara seperti tatkala mereka kentut. Asal bunyi, sembarangan, dan pastinya bau. Orang-orang semacam itu, kuyakin, isi hatinya tidak keruan pula jenis kotoran dalam hatinya… Bau yang berasal dari setiap kalimat omong kosong, penuh janji, bahkan fitnah yang diucapkan. Bau yang ini lebih menyeramkan daripada yang bisa kau bayangkan karena efeknya merasuk melalui telinga sampai ke hati siapa pun yang mendengarkan. Jadilah sakit hati.” – [Pum] (96)

“Anehnya, orang-orang yang beromongan bau ini makin bertambah banyak dari hari ke hari. Mereka pun semakin pintar meramu bau busuk omongan mereka sehingga tersamarkan. Tak bisa dideteksi meski kau berhati-hati menyimak, memikirkan kebenaran setiap kalimat mereka sebelum menelannya, bahkan meminta ditunjukkan sederet bukti sehubungan dengan itu. tetap saja, kau masih tertipu. Menyakitkan, bukan? Maka jangan heran, selain sakit hati, pertumpahan darah pun bisa terjadi gara-gara ini.” – [Pum] (96-97)

“Ia tampak begitu perkasa sehingga seakan mampu memebelokkan sungai seorang diri.” – [Pum] (98)

“Sedangkan perempuan dianggap sebagai mahluk lemah sehingga patut dilindungi dari serangan musuh, tetapi tidak dari penindasan keluarga sendiri.” – [Pum] (99-100)

“Ia bisa menjaga sikap sepanjang hari layaknya anak perempuan, tetapi bisa pula tiba-tiba menyerang siapa pun yang menjahatinya dengan beringas.” – [Pum] (100)

“Semua orang tentu saja menginginkan kebaikan. Pun, setiap lak-laki sudah pasti akan merasa terhormat jika bisa memberikan warisan yang membanggakan kepada keturunannya.” – [Pum] (106)

“Ilmu pengetahuan itu dipelajari untuk bekal hidup. Tidak perlu kau pelajari ilmu yang tiada guna karena nantinya justru akan membuatmu menderita. Ya, menderita karena pintar. Karena tahu terlalu banyak. Mereka akan hidup dalam keputusasaan karena otakmereka memaksa tubuh dan tenaga mereka untuk bekerja melebihi kemampuan. Melawan kodrat. Dan ketika mereka tidak mampu menaklukkan keadaan, mereka pun merasa kalah, lantas kecewa, patah semangat, dan pada akhirnya merasa dirinya paling menderita di dunia. Jadi syukurilah keadaanmu sekarang ini. Jangan berpikir yang macam-macam. Jalani saja yang ada di depan mata.” – Nyonya Hermine (123)

“Siapa pun yang sudah tua pasti gemar bernostalgia dengan kata-kata, seraya mencoba mencari kehangatan dalam setiap kenangan tentang kebahagiaan dan kejayaannya pada masa silam.” – [Kwee] (125)

“Ah, air mata. Sejak kejadian pada hari itu, aku baru menyadari batas antara sedih dan rasa bersalah sangat tipis. Setipis rinai air mata yang mencadari pandanganmu selagi kau menangis akrena kedua hal tersebut. Bahkan saking tipisnya, siapa pun yang menangis lebih karena ia merasa bersalah, memilih mengatakan ia meneteskan air mata itu karena sedih.” - [Pum] (156)

“Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan –jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata- mampu  membuat siapapun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – Mama Kori (163)

“Pada akhir musim hujan yang panjang, tanah memang selalu lebih becek. Tapi kalau kita mau bekerja lebih keras, pasti akan ada banyak pohon yang bisa ditanam dan dipanen suatu saat nanti. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Tidak boleh.” – Mabel (164)

“Takdir adalah peta buta kehidupan yang kau tentukan sendiri arah dan beloknya berdasarkan tujuan hidupmu. Takdir akan berakhir buruk jika kau tidak berhati-hati menjaga langkah.” – Mama Kori (170)

“Menunggu sesuatu yang sangat diharapkan ternyata membuat hari seakan berjalan selambat siput tua.” – [Leksi] (179)

“Terkadang, sebuah perang besar diawali suatu kekeliruan kecil… Perang adalah sebuah ego yang sia-sia.” – [Pum] (192)

“Begitulah laki-laki. Kekuatan dan kegagahan selalu membuat mereka merasa sebagai penguasa. Lupa diri sebagai manusia. Tak ingat bahwa sebagian darah yang ditumpahkan demi kelahirannya, dan keringat yang mengucur saat mengurusnya, adalah milik perempuan.” – Mabel (194)

“Janji terus, tapi tidak pernah ditepati. Seperti ludah yang terus bermuncratan dari mulut, dan langsung dilupa kalau itu ludah milik sendiri begitu meninggalkan bibir.” – Mabel (215)

“Aku tidak mau kau jadi perempuan yang pintar, tapi lupa tradisi leluhur.” – Mabel (217)

“Mimpi buruk adalah ketika kau menemukan dirimu berada di tengah kenyataan yang tidak menyediakan tempat untukmu bersembunyi dan melarikan diri dari keburukannya.” – [Kwee] (222)

“Kita harus tetap kuat… Jangan menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” – Mabel (cover belakang)


Keterangan :
- [...] berarti bukan merupakan kalimat langsung
- (...) menunjukkan letak halaman
- Buku ini adalah pengecualian bagi saya yang tidak pernah membahas buku/lagu/film apapun di blog ini.
- Buku bagus-inspiratif ini dipinjamkan oleh Callistasia ! Makasiiiy! :)


Minggu, 30 Desember 2012

Prolog


Jakarta adalah kota metropolitan yang katanya tak pernah tidur. Bukankah cinta juga tak mengenal istirahat? Menurutku rasa cinta itu seperti Jakarta, tak pernah lelap dan selalu terjaga. Aku hidup, lahir dan tinggal di Jakarta. Semua orang yang menetap di ‘daerah’, ingin sekali menginjakkan kakinya ke Jakarta. Mungkin sama dengan orang Jakarta yang ngebet pingin merasakan ke luar negeri. Namun untuk saat ini, aku belum kepikiran untuk keluar dari Jakarta, karena di sini, di tempat ini, aku punya puzzle rasa yang harus aku pecahkan. Ah Jakarta!

Setu Babakan, 2 Januari 2013

“Sayang, sini aku suapin. Aaak! Ayo dibuka mulutnya..!”, goda Figo kekasihku yang telah aku pacari satu tahun belakangan ini. Ia adalah seniorku di kampus. Jarak usia kami 2 tahun.

“Figo! Aku udah 19 tahun loh yah! Kuliah jurusan hukum semester tiga. Kenapa masih diperlakukan seperti bocah sih?”, jawabku sebal.

“Neisya cantik, kamu itu baby face banget loh yah. Tinggi badan 149 dengan berat badan 40 kg. Mini. Mihihi… ralat deh! Maksudnya imut.”, jawabnya sambil menyuapiku Kerak Telor.

Mbok yo nyadar toh mas’e. Malu sama rambut gimbal sepunggungmu itu. Muka sangar, gaya gahar, ngomongnya moso klemar-klemer gitu? Ahahahaa. Eh eh… I love you so”. bisikku lembut di telinga kanannya.

            “Nah kan gantian kamunya yang munyu-munyu. Ahahaha. I love you more.”, jawabnya lantang sembari mengecup keningku.
“Eh itu ondel-ondelnye udeh nongol. Mpok Lela begimane? Udah cakep pan? Permasalahannye pan nih kawinan doi nyang punya hajatan.”, peringatku sembari memperbaiki posisi kebaya Betawi modern warna orange. Hari ini kakak perempuannya akan dinikahi oleh seorang pemuda Betawi juga, dan aku yang telah dianggap jadi ‘bagian dari keluarga’ pun ikut menjadi seksi sibuk di hajatan ini.

“Salah sayang! Nyang punya hajatan entu si babeh! Mpok Lela mah enak tinggal nungguin roti buayanye aje.” Ahahaha ya Tuhan, pacarku ini kalau berbicara nyablak sekali, tapi justru di situ letak daya tariknya.

Selanjutnya bunyi petasan yang baru saja dibakar memekakkan telinga semua hadirin yang ada disitu. Tanpa ada yang tahu, Figo sempat mencium pipiku secara mendadak dan dengan sempurna membuat pipiku bersemu merah dengan mata membelalak dan mulut menganga.

Di kota ini aku belajar merangkak, berbicara, mencinta bahkan mencicipi pahitnya hidup ditemani asinnya air mata yang tanpa sengaja meluncur ke mulut. Orang bilang, Jakarta lebih kejam dari ibu tiri. Masalahnya aku tak punya ibu tiri (dan ya Tuhan jangan sampai aku memilikinya) sehingga aku tak pernah bisa menyetujui ataupun menyangsikan pernyataan tersebut. Tapi setidaknya, cinta seseram ondel-ondel hingga secentil banci Taman Lawang dapat aku jumpai di kota ini.

Kemang, 5 Januari 2013
“Neisya! Ikut aku hunting foto yuk. Di Kota Tua. Sekalian masang tato-tatoan. Atau kamu maunya apa? Ke Fatahilah?” ajak Ferza.

“Kapan kapan? Ayuk. Aaaa…mau mau! Tapi naik apa?”, jawabku centil.

“Kamu maunya apa?”, Ferza ini…selalu dan selalu saja memprioritaskan kehendakku.

“Loh kok nanya balik? Hmmm… Bus Trans Jakarta aja kali ya, za. Adem. Bebas macet.”

“Eh kok kendaraan umum. Ahahaha. Maksudku bukan itu. Aku tuh maunya kamu aja yang nentuin, aku ngendarain motor atau mobil. Gitu.”

“Lah tapi kan kamu yang ngajak. Kok malah terserah aku?”

“Karina Neisya Wijaya, kamu kenal aku udah berapa lama deh?  Bukannya dari dulu memang selalu terserah kamu ya?”, senyumnya tulus, sorot matanya halus.

“Ya tapi kan itu dulu. Waktu kita masih….”

“Pacaran? Iya Neisya, aku inget kok. Statusku ini mantanmu. Gitu kan? Tapi emang haram ya jalan sama mantannya?”

“Ahahaha… Yuk sekarang aja. Aku yang nentuin. Pakai motormu. Ada helm cadangan kan? Aku kangen denger deru knalpot kamu.”

“Kangen motornya apa pemiliknya? Kangen deru motornya atau meluk yang empunya?”, goda Ferza dengan centilnya. Ia langsung mengaduh ketika spontan ku cubit perutnya.

“Daripada cubit perut, mending cium pipi.” Ferrrrzaaaa~! Aku pernah memadu kasih dengan Ferza di saat kami masih duduk di bangku SMA.Tiap bel berdering ia pasti langsung stand by di pintu kelas menungguku, ke kantin bareng, pulang-pergi sekolah selalu satu kendaraan sehingga tak heran kalau macetnya Jakarta menjadi alasan wajib bagi kami berdua ketika terlambat tiba di sekolah. Aku pernah begitu mabuk akan cinta pada Ferza.

            Pada akhirnya kami pergi ke Kota Tua. Salah satu daya tarik dari kotaku. Banyak peninggalan zaman Belanda yang masih tertera disana, hanya saja, karena kurang penanganan maka banyak gedung-gedung bersejarah yang hanya menjadi onggokan barang usang tak terawat, namun kadang itu yang jadi daya tariknya.

“Mau tato naga, kupu-kupu atau nama aja ya, sya?” tanyaku minta pendapat.
“Kenapa gak nama aku aja?”

“Sinting! Ya gak lucu lah. Kita kan…” jawabanku menggantung. Ferza, kita kan sudah mantanan dan aku statusnya in a relationship with Figo.

“Neisya! Apa aku harus nembak kamu lagi di depan tukang tato untuk ngajak balikan?”

“Enggak! Norak! Makasih! Hmmm… Aku maunya kamu masang tato sekarang, nama aku, terus kita hunting foto sampai sore dan selanjutnya nyatakanlah perasaan kamu di Bunderan HI! Jam 12 malam. Kalo aku terima, nyebur ke kolam. Gimana? Bernyali gak?”, tantangku centil.

“Ok! Siapa takut!” , jawab Ferza lantang.

“Ya sudah! Buruan buktikan!”, tantangku kemudian. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal karakter seseorang, apalagi kami pernah saling memiliki.

            Huwaaa… siapa yang menyangka kalau hari ini menjadi hari terbaik yang bisa aku habiskan bersama Ferza. Ia tak henti-hentinya mencuri kesempatan untuk mengecup keningku. Aku selalu menjadi objek favorit bidikan SLRnya dan namaku benar-benar terukir di kulit atas nadi kanannya. Ya Tuhan… kenapa dulu kami harus berpisah jika keadaan seindah ini?
“Nggg…za! Aku boleh tanya gak?”, kataku takut-takut.

“Bukannya itu pertanyaan favoritmu ya sebelum menembakkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya?”

“Ehehehe. Aku serius za. Kenapa deh kamu…nggg…kita…”
“Kenapa aku balik lagi ke kamu? Kenapa kita dulu harus bubar? Itu kan yang pengen kamu tanyain?”

“Eh…kok tau. Nggg…iya za. Kenapa?”

Why did I wanna be with you again? well I’ve ever been with her, Sinta, for 3 months. But she doesn’t know me as well as you know me.
“ Kalo soal kita bubaran?”

I’ve fallen in love with Sasha. And she’s not as kind as you. So… I wanna be with you. Again!

“Jadi kamu ngajak balikan karena kamu males sama Sasha, gitu?”

Pertanyaanku belum benar-benar terjawab ketika akhirnya motor Ferza berhenti pun menepi di dekat Patung Selamat Datang. Aku masih penasaran dengan pertanyaanku yang belum terjawab, namun Ferza seakan menghindar dan segera menuju ke Bunderan HI. Tengah malam. 12 teng!

“NEISYA! LISTEN! I AM SORRY FOR ALL OF SORROWS THAT YOU GOT FROM ME. YES, I AM TOTALLY A BASTARD! BUT… WOULD YOU FORGIVE ME AND ACCEPT ME AS YOURS… AGAIN?”, teriak Ferza tak tahu malu.

“Za! Udah! Gila. Eh, ditangkep polisi loh. Ish sumpah…malu-maluin banget.” Jangan ditanya semerah apa pipiku dibuatnya.

“Ahahaha. Aku masih sayang sama kamu, sya. Iya aku bangs*t. Pergi seenak jidat, kembali sesuka dengkul. Tapi sya, aku pengen kita…. BALIKAN!!!”, teriaknya lagi makin norak.

“Iya iya. Kita balikan. Iyaaah! Lo punya gue sekarang, hak milik. Sini dicap dulu.”, teriakku tak kalah noraknya. Ia mendekatiku dan segera ku kecup keningnya. Norak memang. Bollywood sekali, iya! Kemudian aku bisikkan telinganya “Omongan laki-laki itu sumpah loh ya.”

            “I will. Ahahahaha!”, tawanya terhenti seketika saat dirinya sudah mendarat mulus di kolam Bunderan HI. Norak, tapi aku suka. Ya, karena biar bagaimanapun juga kami pernah saling mencinta, memiliki dan menggila bersama. Well, dear emak kota (biar kesannya akrab dan Jakarte banget) I have two boyfriends rite now.

Semanggi, 7 Januari 2013

“Gimana kemarin hajatannya? Seru amat sih udah dianggep anggota keluarga gitu. Padahal kan baru bentar ye lo sama si…ehem…senior kita itu! Ahahaha!”, canda Tita sahabatku.

“Iiiih Titot! Lebay deh. Ya standar. Roti Buaya, Petasan, Ondel-Ondel. Lu tinggal dimana sih begituan aja pake ditanya segala?”, jawabku sebal.

“Lah lo Bbm katanya ada hal seru yang mau diceritain ke gue. Kalo bukan itu, apa dong? Aaaa…babenye Figo minta cucu ye?”, cekikinya kemudian.

“Korban sinetron deh si ibu. Bukan. Gak usah lebay mikirnya. Gak sejauh itu kok. Udah deh. Figo is so yesterday.” Ucapku menggebu-gebu.

“:Lah bukannya lo cinta mati sama dia?”

“Ibarat om Ahmad Dhani, cinta matinya berseri. Dan ini… Cinta Mati 2.”

“Maksudnya?” alis Tita terangkat sebelah. Seentengnya aku jawab bahwa aku sudah menerima Ferza kembali untuk menjadi pacarku.

“Lo putus? Ya Tuhan. I’m so sorry.” ucapnya dengan muka memelas.

“Titot apaan sih! Gue masih sama Figo juga kok. Double FF. Figo and Ferza are mine. Begidu.”

“Sinting. Kalo ketauan gimana?”, tanya Tita sesudah menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.

“Ya gak gimana-gimana!”, jawabku enteng sambil menjilati Es Krim Monas murahan.

“Lo… gelo! Kalo mereka tau lo duain, gimana? Kenapa gak milih satu aja sih, sya! Maruk tau gak itu namanya!”

Choose one of them? Gosh, did you know that sun lights to anyone without any exception(s)? Love doesn’t choose. And I won’t choose anything!

“Sya, hidup itu pilihan!”, nasihat Tita sok bijak.

That is life. This is love. Love is totally different from life. Should I spell two of that words to make you understand?”

Sak karepmu! Yang jelas, kalo mereka sampai marah, jangan bawa-bawa nama gue. Sya, lo, gue, Ferza temenan dari SMA. Kak Figo, senior gue yang biar covernya kumuh gitu tapi aslinya baik banget kepribadiannya.“

Well, ini adalah sepenggal kisahku. Kisah cinta yang belum usai. Tak benar-benar baru dimulai. Karena waktu telah membentuk kisah yang begitu panjang dalam kehidupan asmaraku. Setidaknya, ibarat jalanan di Jakarta, aku punya alternatif. Kalau disuruh memilih, aku tidak mau. Hei, banjir Jakarta aja gak kenal objek, masa cinta harus sekasar itu diberikan hanya kepada yang terpilih? Enggak ah! Aye mah cinte ye cinte aje, mo die demen apa kagak, bodo amat. Pan cinte gak kudu memiliki. Mereka mo marah dan pergi, ya seterah. Mo menerima keadaan, yuk mari! Susah amat! Iye gak nyak… nyak? Enyaaaak!

 Menuntut ending untuk kisahku ini ibarat menebak-nebak kapan banjir Jakarta dapat teratasi 100%. Hei, tak selamanya kisah cinta berjalan mulus atau selalu berakhir tragis, kan? Ini baru prolog. Memaksakan ending berarti memperkosa masa depan. Ahahaha! Biar waktu yang menentukan restunya karena aku mencintai keduanya. Titik.


NB : Ferza dan Figo adalah nama anak kunci. 
        Gambar : Cynderland .