CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 08 November 2012

Secangkir Dusta



Lelakiku tak pernah ingkar janji. Karena pada kenyataannya ia tak sekalipun pernah berjanji akan selalu setia bersamaku di sisi...

Di sebuah kedai kopi samping kampus aku meneguk secangkir minuman pesananku. Aku hanya suka kopi hitam manis. Tak perlu campuran lain untuk memberikan kenikmatan bagi lidahku saat mengecapnya.

Aku mengambil sebuah cermin mini dari dalam tas dan melihat pantulan deretan gigiku yang terikat behel dengan manisnya disana. Ah gigiku masih cerah, tak nampak noda kekuningan akibat kafein.

 Kekasihku akan datang. Aku tak mau tampak kusam dihadapannya.

“Sayang. Maaf. Lama menunggu?”, ujarnya kemudian setelah kedua telapak tangannya sempat menutup mataku kala posisi dudukku membelakangi pintu masuk.

“Ah kamu! Bikin kaget saja. Tidak juga. Duduk sini. Bagaimana hari ini sayang?”, keriangan menjalari tubuhku kala ku lihat kekasih duduk dihadapanku. Ah wajah yang selalu aku tunggu, wajah yang selalu menghiasi mimpiku dan menjadi inspirasi bagi setiap naskah cerita karanganku.

“Aku lelah sekali. Tugas tak pernah berhenti menghampiri.” Lelakiku menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Hanya saja kala mengucapkan kalimat ini kedua bola matanya tak pernah membalas tatapan yang kuhujani padanya.

“Itu kan pilihan hidupmu. Jalani saja.” kataku pada salah seorang aktivis kampus kebangganku ini.

            Selanjutnya aku dan kekasih menghabisi waktu dengan saling bercengkrama. Menonton film di bioskop adalah hal yang sesungguhnya tidak terlalu kami gemari. Kekasihku lebih menyukai bernyanyi di dalam ruang karaoke. Cara paling ampuh melepas penat baginya adalah dengan meneriakkan setiap kata-kata yang ada di kepalanya melalui rangkaian nada.

“Ah.. kekasih! Ada apa denganmu? Sudah tiga kali kau lantunkan lagu-lagu bertemakan selingkuh, permintaan maaf, kejenuhan! Hei! Ada apa dengan kita?”, tanyaku lembut pada kekasih yang tampak gamang dihapanku.

“Ah tidak. Aku hanya sedang lelah. Maafkan. Jangan salah sangka, sayang. Jemariku kebetulan saja mengetikkan judul lagu-lagu itu.”, perjelasnya. Ah kekasih! Berhentilah membodohiku!

            Kemudian kami habiskan sisa malam itu dengan bercengkrama sampai tengah malam. Kekasihku tak pernah kehabisan bahan cerita. Ya kekasihku memang pencerita ulung yang punya segudang kalimat untuk diucapkannya dihadapanku. Dan setiap rangkaian huruf yang keluar dari bibirnya akan selalu bertengger manis di benakku. Salah satu alasan aku mengagumi kekasih yaitu karena di mataku seorang orator ulung yang sedang berpeluh memvokalkan pemikirannya secara tajam, lugas dan tegas adalah sangat amat seksi.  

            Kekasih membawaku menembus malam dengan kecepatan 110 km/jam. Dinginnya angin malam tak terasa lagi dikulitku yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Aku hanya tahu memeluk pinggang lelakiku, menyebut nama Tuhanku dan memasrahkan hidupku pada kemampuan kekasih mengendarai motor sport kesayangannya itu.

            “Ada apa Richie?”, tanyaku dengan berteriak lantang dari jok belakang motor kekasih. Pertanyaanku hanya berlalu bersama dengan angin yang terus mengusutkan rambut sepinggang milikku. Ah… Sebetulnya aku tidak butuh jawaban. Aku mengenal kekasihku lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

            Aku bukanlah si Maha Tahu, tapi setidaknya aku mengetahuinya. Ada sesuatu yang terjadi pada kekasihku. Bukan perkara yang sulit untuk menebak apa yang terjadi dengan lelakiku itu. Bahasa tubuhnya telah memberikanku jawaban yang paling krusial atas apa yang sebenarnya terjadi.

            Sesampainya di teras rumahku, Richie membuka helm kepunyaannya dari kepalaku dan mematung cukup lama sampai akhirnya ia kecup jua keningku. Ah kekasih, berhenti bersikap terlalu manis padaku. Aku tahu Richie!

            “Selamat malam Bening Karilla. Aku mencintaimu.”, hanya itu kalimat yang terucap dari bibirnya. Kekasihku pergi tanpa membiarkanku membalas ucapan manisnya.

            Hari berikutnya dan seterusnya kembali ku habiskan di kedai kopi dekat kampusku. Aku meminta sahabat-sahabat dan orang kenalan terbaikku untuk membantu menandatangani daftar hadirku di kelas. Aku jengah menatap wajah para dosen yang berlagak berwawasan luas namun tak pernah mampu memberikanku jawaban atas pertanyaan ‘Adakah kekasih akan selamanya kekal menjadi kepunyaanku?’

            Aku tengah memikirkan kekasih ketika kedua bola mataku menangkap bayangan sosok dari jauh yang ku rasakan tengah menatapku. Hitunganku akan ciuman yang pernah kekasih berikan masih menggerakan jari-jemariku kala bayangan itu makin nyata dan akhirnya berdiri di hadapanku.

“Sendirian saja?”, tanya mahluk yang bayangannya begitu menjulang di hadapanku. Mengapa mahluk ini begitu menawan?

“Iya. Ada apa?”, tanyaku pada si mahluk yang wajahnya tampak tak asing bagiku. Entah dimana aku pernah melihat wajah serupa ini.

“Perkenalkan. Saya Rico.”, ujarnya seraya menjulurkan tangannya padaku. Tangan kuatnya sempat membuatku mematung dan lupa diri.

“Ah. Hai. Saya Bening. Mahasiswi Atma Jaya.”, ucapku seraya menunjuk arah di depanku, letak kampus tempatku menimba ilmu.

“Oh kamu anak Atma Jaya juga toh. Fakultas apa? Hukum? Saudara saya disana juga soalnya.”, ucapnya seraya melepas kunciran rambutnya. Wangi segar shampoo yang melekat di rambut lelaki asing dihadapanku diantarkan oleh angin menuju indera penciumanku. Wangi yang sangat mampu membuatku berlama-lama menutup mata, menikmatinya dan berfantasi akan pemilik rambut gondrong-ikal-wangi tersebut.

“Eh! Oya? Siapa namanya?”, tanyaku setelah pulih dari lamunan konyol. Bagaimana mungkin aku bisa berfantasi gila-gilaan akan cinta terhadap lelaki yang baru saja kutemui tak lebih dari lima menit yang lalu.

“Ah tapi apa mungkin kamu kenal? Ahahaha. Sudah lupakan saja.” Segaris senyum manis selalu mewarnai rahang kokoh nan eksotis milik lelaki dihadapanku ini. Ah kekasih, andai kau tahu betapa godaan keinginan untuk memiliki mahluk berjakun dihadapanku ini adalah dosa terbesar bagi kesetiaanku kepadamu.

“Aku penasaran! Siapa? Lebih baik kamu tidak menyebutnya sedari awal daripada dibuat menggantung. Siapa dia?”, terus saja aku mencari cara agar percakapanku dengannya tak pernah berakhir.

“Richie. Saudara kembar saya. Nama yang sangat umum, bukan? Ahahaha. Tidak mungkin juga lagian kan kamu mengenalnya.”, gelak tawanya semakin mengingatkanku pada sosok yang tak asing bagiku. Tunggu dulu! Siapa? Richie? Hei… itu kan…?!

Ah kekasih. Sejak kapan kau punya saudara kembar? Kenapa selama ini aku tak pernah mengetahuinya? Sebegitu tidakpentingnyakah arti keberadaanku di matamu? Tak cukupkah waktu dua tahun jalinan hubungan itu menjadi bukti keharusan adanya kepercayaan di antara kita?

Pertemuan dengan lelaki kembaran kekasihku berakhir dengan saling tukar nomor ponsel. Aku tak akan pernah bisa tidur dengan tenang nantinya jika melepaskan perjumpaan menakjubkan itu tanpa mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan mahluk yang mampu mematahkan mitos yang berkembang pada peradaban manusia selama ini bahwa keindahan hanya milik alam dan wanita.

Beberapa kali aku kembali bertemu dengan kekasih dan bahasa tubuhnya semakin meyakinkanku akan adanya sesuatu yang salah pada dirinya. Ah kekasih, ada apa? Jenuhkah engkau dengan hubungan ini? Aku masih sungguh mencintaimu. Masih nama belakangmu yang aku bangga-banggakan untuk jadi nama marga yang akan ku letakkan di belakang namaku. Bening Karilla Rumengan. Ah, tidakkah nama itu teredengar begitu manis?

Bayangan akan perubahan pada diri kekasih masih memenuhi relungku kala lelaki itu berjalan lagi menuju meja tempat mahluk imajinasiku memerankan peranan aku dan kekasih yang tengah bertengkar hebat hanya karena masalah kecemburuan. Lelaki itu menarik bangku di hadapanku tanpa minta permisi.

“Teruslah menerawang dan jiwamu akan diusir oleh mahluk lain yang tanpa ijin akan menikmati tubuhmu!”, ucapannya lagi-lagi seketika menghapus angan tentang kekasihku.

“Hei kamu! Sejak kapan ada disini?”, ujarku lembut padanya. Lelaki indah ini selalu ada di kala aku merasa membutuhkan sesosok mahluk berjakun untuk mengisi kekosongan hatiku yang sedang gundah-lelah-tak bergairah. Sedangkan kekasih, ah entah di mana dan adakah namaku masih melintas di pikirannya?

“Harusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu. Sejak kapan dan sampai kapan kamu akan selalu berada di sini?”, tanyanya sembari jari telunjuk kanannya memilin-milin rambutnya. Ingin sekali aku mengantikkan jari telunjuknya dengan telunjuk milikku untuk memainkan rambut gondrongnya itu.

“Apa maksudmu? Sebegitu nelangsanyakah aku dihadapanmu? Ahahaha. Tega!”

“Karena mata tak cukup cerdas untuk memantulkan penyangkalan isi hati si empunya. Biar aku tebak. Masalah lelaki?” Ah kekasih, mengapa lelaki yang baru kedua kalinya ku temui ini begitu mampu memahami diriku. Di mana perananmu sebagai lelaki gentleman yang selalu kubangga-banggakan selama ini?

“Haruskah aku menjawab jujur pertanyaanmu itu? Kita bahkan baru bertemu untuk yang kedua kalinya. You’re a stranger, sir! Mommy doesn’t allow me to talk to strangers”, godaku.

“How could you get a new friend if you never talk to strangers, miss?” balasnya. Ah kekasih, kenapa kau tak pernah semenarik lelaki yang satu ini dihadapanku?

“Ahahaha. Ok! Kamu cerdas. Apa? Masalah lelaki? Ya, lelakiku! Tak pernah ingkar janji.”
“Tak pernah ingkar janji? Bukankah itu manis? Lelaki mana yang tak pernah tak ingkar janji kepada wanita yang dikasihinya? Meski sedalam apapun lelaki mencintai wanitanya, namun atas nama ‘manusia’nya, tentu ia pernah teledor mengingkari janji. Tunggu dulu? Atau jangan-jangan lelakimu hanya menjadikanmu tameng?”

“Maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Mungkin saja selama ini lelakimu tak pernah menyukai wanita. Sehingga tak pernah ia ingkari janji pada wanitanya karena memang ia tak pernah sungguh-sungguh berjanji akan menyukai lawan jenis?”, tebaknya sok tahu. Ahahahaha! Aku hanya terpingkal-pingkal mendengar ucapannya.

“ Hei, mengapa tertawa? Aku tidak sedang bercanda. Ahahaha!” Ya Tuhan! Getaran cinta mana yang mampu aku dustakan dari mahluk indah di hadapanku ini? Ah, jika aku adalah Nabi Adam, maka lelaki ini pastilah buah terlarang. Aku rela mencicipinya meski itu berarti aku harus mendustakan kesetianku pada-Mu dan pada kekasih!

“Aku tak pernah mengerti ada apa dengan lelakiku.”, ucapku perlahan.

“Ceritakanlah. Aku akan diam dan mendegarkannya.”

“Ah… aku baru sekali bertemu denganmu. Ini adalah kali kedua. Entah mengapa aku harus mempercayaimu.” Kali ini aku sepenuh hati menyampaikannya.

“Karena aku akan memapahmu jika kelak engkau terjatuh.”, ujar Rico serius.

“Maksudmu? Sehabis aku menjelaskan kisahku, lalu aku akan terjatuh, begitu?”

“Ahahaha. Mengapa jadi perempuan terlalu naïf? Pantas saja lelakimu mengecewakanmu. Ah…bukan itu maksudku. Namun percayalah, suatu saat kamu akan memahami maksudku. Nah sekarang, kisahkanlah kisahmu!”

            Aku tak pernah memahami sihir apa yang Rico gunakan untuk memancingku menjelaskan setiap hal yang terjadi antara aku dan Richie kepadanya. Utuh. Aku mulai dari awal pertemuanku dengan Richie, proses bagaimana kami saling berkenalan, berteman hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin suatu hubungan.

            “Co, aku tak pernah benar-benar mengerti dengan jalan pikiran kekasihku. Mengapa kode milik lelaki itu sungguh sulit dipahami? Ah. Ada yang berbeda dengan sikapnya belakangan ini. Atau sejak awal. Ah entah, co! Aku pun…”

            “Seorang Bening Karilla pun tak benar memahami perasaannya pada kekasihnya yang sejak awal tak ia sebutkan nama asli lelakinya itu. Begitu bukan? Ahahaha. Well… Aku juga tidak perduli siapa nama asli lelakimu!” Ya Tuhan, lagi-lagi lelaki ini menyunggingkan senyuman bulat sabit di bibir merah-indah-merekahnya. Pasti Engkau sedang sangat berbahagia ya Bapa kala menciptakan mahluk dihadapanku ini!

            “Aku tak pernah benar-benar memahami apa yang lelakiku inginkan. Apa yang terjadi dengannya. Apa yang ia kehendaki. Ia milikku, aku tahu itu. Tapi ada bagian yang hilang dalam hubungan kami ini. Entah apa itu. Semuanya indah. Hanya saja…”

            “Kau tak pernah benar-benar tahu apakah hatinya benar-benar untukmu. Begitu kan maksudmu?”

            “Bagaimana bisa kau tahu?”

            “Karena aku pun mengalami hal yang sama.”, ucapnya lesu.

            “Benarkah? Ya Tuhan! Mengapa kisah kita bisa serupa begini. Ayo sekarang giliranmu menceritakan kisahmu itu!”, tuntutku.

            “Ahahaha. Sudah naïf, galak pula. Pantas saja lelakimu bersikap seperti itu. Baiklah. Jadi begini... Sudah satu tahun aku menjalin hubungan asmara dengan seorang mahasiswi Atma Jaya…”

           
 “….Hah? Mahasiswi Atma Jaya? Ya Tuhan! Siapa dia? Satu kampus dong denganku! Pun dengan kekasih!”, segera aku potong ucapannya sebelum sempat ia melanjutkan kalimatnya.

            “Bening Karilla! Kamu ini! Sudah naïf, galak, tidak sopan pula main memotong pembicaraan lawan bicaramu. Pantas saja lelakimu itu…”

            “Yayaya! Cukup! Kumohon lanjutkan kisahmu!”, tak ingin aku dengar kelanjutan ceramahnya.

“Aku pun akan memanggilnya dengan sebutan kekasih. Seperti yang kamu lakukan, menyamarkan nama asli. Nah, jadi begini ceritanya. Kekasihku sangat amat menarik. Ia baik, cantik dan sopan. Sikap malu-malunya yang sangat membikin gemas. Ia tak terlalu banyak berbicara. Namun sekalinya berbicara, Tuan Shakespare pun akan segera menggantikan nama tokoh karangannya Juliet dengan nama kekasihku. Mengapa? Karena kekasihku sungguh amat hampir mendekati sempurna.”

“Lalu dimana letak permasalahannya?”, tanyaku jengah atas pujian berlebihannya atas kekasihnya itu.

“Belajarlah bersabar nona kecil.”, ia malah kembali memainkan rambutnya. Tak melanjutka ucapannya. 

           
 “Hei! Bagaimana kelanjutannya? Kekasihmu itu hampir sempurna, lalu apa?”

“Hampir sempurna bukan berarti sempurna. Disitulah letak permasalahannya. Ia tak sesempurna yang aku kira. Aku mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dengannya. Semacam ada kepalsuan padanya.”, ujar Rico dengan mimik super serius. Ada kedukaan yang terpahat secara terselubung dari kalimatnya itu.

Plastic surgery?”, tanyaku hati-hati.

“Bahahahahhaha! Ya Tuhan mengapa Engkau pertemukanku dengan mahluk satu ini? Bening…Bening! Namamu memang mencerminkan jati dirimu ya, terutama cara berpikirmu. Terlalu bening! Bahahaha!”

Aku tersinggung dengan ucapannya kali itu. Itu bukan pujian. Aku tahu. Itu semacam penghinaan secara halus. Aku diam saja. Ceritanya sedang memasang aksi ngambek. Andalan setiap perempuan untuk meluluhkan lelaki!

“Ahahahaha! Maaf Bening. Yaaah...jangan marah lah. Kamu ini lucu sekali. Bodohnya kekasihmu itu meninggalkanmu.”

“Aku masih punya status taken and in a relationship dengan kekasihku ya!”, marahku.
“Iya iya maaf. Ok. Lebih baik aku lanjutkan kisahku. Bukan. Bukan tubuhnya yang palsu, anak manis. Tetapi… kecintaanya padaku.”

“Maksudmu?”, entah luluh atau atas desakan rasa penasaran, aku sungguh ingin menyelami lebih dalam kisah cinta mahluk indah dihadapanku ini.

“Tak sadar kah kamu bahwa aku yang bukan mahasiswa kampusmu itu rajin berkeliaran di daerah sekitar sini?”

“Ah banyak orang yang sepertimu. Lagian hal seperti itu kan lazim dilakukan. Bukan perkara besar.”

“Aku ke sini untuk memata-matai kekasihku!”, pertegasnya.

“Benarkah?”, aku tak menyangka sejauh itu hal yang mampu seorang lelaki lakukan demi wanita yang dikasihinya.

“Bukan karena aku tak percaya lagi padanya. Hanya saja, instingku yang menuntunku untuk melakukan aksi konyol ini.”

“Lalu bagaimana hasilnya?” tanyaku penasaran.

Posisi dudukku yang memang berhadapan dengan Rico dan menghalangi pintu masuk membuatku tak menyadari berapa manusia yang lalu lalang ke kedai kopi ini. Hanya saja bibir Rico yang tiba-tiba menganga, pupil matanya yang tiba-tiba membesar dan suara tercekat yang dihasilkan tenggorokannya membuatku memutar tubuh dan mengikuti arah padangannya.

Oh! Hanya kekasih dan sahabatku, Mayla. Tak ada yang spesial disana. Ah mungkin Rico hanya terpengarah saja melihat wajah bulat polos milik sahabatku itu. Meski begitu ada sedikit kecemburuan menjalari nadiku kala menyaksikan Rico begitu terkagum-kagum memandangi Mayla.

“Ini yang aku takutkan!”, ucap Rico kemudian setelah kesadarannya mulai pulih.

“Apa?”, tanyaku polos karena memang benar-benar tak memahami maksudnya.

“ Ya Tuhan mengapa mahluk di hadapanku ini begitu cantik tetapi memiliki keterbatasan dalam berpikir jernih? Tidakkah kamu sadari, itu Mayla kekasihku, sedang bersama dengan kekasihmu, kan?”, tanya Rico dengan nada suara sedikit meninggi.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Palsu. Mayla memacariku namun sesungguhnya ia lebih tertarik dengan Richie, kemabaranku. Ia tak mau menyakitimu sahabatnya yang lebih dahulu memadu kasih dengan Richie.”
“Ya Tuhan!”, ku gunakkan kedua tanganku untuk menutupi mulutku.

“Aku sudah tahu sejak awal kamu adalah kekasih Richie. Aku pernah melihat wajahmu kala kau sedang melalukan kontak Skype dengan saudara kembarku itu. Ingat kan siapa diantara kita berdua yang lebih dahulu memadu kasih dengan pasangannya?”

“Richie pun berusaha menjaga perasaanku hanya karena wanita yang kini menghiasi hatinya adalah sahabatku, begitukah maksudmu?”. Rico tidak menjawab. Ia hanya menaikkan kedua pundaknya, menuntut agar aku mencerna sendiri pernyataanku itu.

Ah ya… kekasih. Aku akhirnya menyadari semuanya. Kamu tak pernah benar-benar berjanji akan setia berada disisiku dan naifnya aku tak pernah menuntut hal itu daripadamu.

“Tataplah cangkir dihadapanmu!”, ujar Rico menganggu lamunanku.

“Ada apa?”

“Secangkir kopi hitam. Manis, meski pahit. Itulah kenyataan kisah cinta kita berdua. Tak seburuk yang tampak, tak semanis yang diduga.”

“Secangkir dusta apakah itu masih ada gulanya?”, ucapku beranalogi.

“Setidaknya takdir mempertemukan dua insan yang sedang dikhianati oleh kekasihnya. Ah, Bening, pernahkah kamu mendengar adanya suatu hubungan yang didasari perasaan senasib sepenanggungan?”, goda Rico. Aku hanya mengakak terpingkal-pingkal mendengarnya. Ah! Wahai kekasih dan kamu sahabatku terkasih, terima kasih atas pengkhianatan pahit ini. Ah tuan takdir, inikah kekasih manis yang kau sediakan untuk kucicipi kini dan kelak? Secangkir dusta pembawa cinta! Ahahaha!

“Hei Bening! Malah Bengong! Jawablah! Ahahaha!”, canda Rico Rumengan.



Sabtu, 27 Oktober 2012

Sumpah Pemudi




"Baik. Selamat pagi. Hari ini saya akan bagikan hasil UTS kalian ya. Malisya Sailendra? Ah...kamu lahir di Malaysia ya?"
"Saya pak. Enggak pak. Saya asli Kutoardjo." Lisya baru saja hendak mengambil kertasnya ketika seseorang mengetuk pintu kelas.
"Hmmm...masuk." sahut sang dosen.
"Maaf pak. Saya terlambat." seorang pria memasuki ruangan. Lisya kagum bukan kepalang.
"Nama siapa nama?"
"Roberto Setidjo pak."
"Bahaha...gaya kali namamu."
"Ini...ambil ini." seru sang dosen sambil mengulurkan kertas UTS Lisya. Robert malah mengambil kertas itu bukannya buku absensi.
"Eh kak, maaf. Itu punya saya."
"Oh. Maaf. Eh panggil nama aja kali. Saya kan maba. Angkatan 2012."
"Serius...ih tapi kok?"
"Iya. Usia hampir kepala 3 memang. Dulunyaa S1 ekonomi."
"Hei hei hei! Kalian pikir saya biro jodoh! Sana! Saya mau lanjut bagikan hasil UTS ini!"

-----

"Cika, lo harus tau. Dia. Ganteng. Banget!" jerit Lisya
"Siapa? Om-om itu? Ih, udah 28 tahun kan?"
"Justru itu! Lebih matang. Aaak!"
"Lebay lo!", sahut Ana.
"Ah Ana. Lo harus liat. Cincinnya aja segede gaban gitu. Kayaknya tajir deh!"
"Ahahaha. Tajir sih tajir. Tapi rambutnye itu loh...klimis bener kayak ketek abang bajaj!"
"Siake!"

-----

Sebuah pesan masuk ke ponsel Lisya.
'Hi. Saya Robert. Yang kemarin salah ambil kertasmu.'
'Oh hai. Saya Lisya. Ada apa ya? Tau nomor saya dari mana?'
'Dari...rahasia. Ahaha. Kamu lupa ya, kemarin pas kita duduk sebelahan kan saya minta nomormu.'
'Ah iya. Saya lupa. Ehehehe.'
Saling mengirim pesan pun terus berlanjut.

-----

"Udah 3 hari aku smsan sama Robert dong!"
"Lah terus kenapa? Dih! Masi jaman smsan?"
"Dia gak pake bb. Tapi iPhone. Seri terbaru. Wooo!"
"Apaan sih! Norak lo! Terus kalo dia make ipon, hapenya buat lo gitu? Bangga amat!"
"Ah Ana. Galak bener. Dia imut ya, na?"
"Lisya, denger! Lo baru kenal 3 hari. Terus kata lo nanti dia mau nganterin pulang. Apa gak ngeri?"
"Ngeri gimana? Enak malah. Kan gratis ongkos."
"Ih! Dasar pantat jok! Dengerin ya, lo harusnya hati-hati. Ngeri."
"Enggak gue yakin kok. Dia baik."
"Terserah deh!"
"Yaaah Ana... kok gitu? Eh na, itu dia kan? Dia nyamperin. Aaaak, Udah dulu ya. Daaaa neeee!"

-----

"Ih si Lisya gak banget ya. Liat gak cowoknya? Apa gak serem ya?"
"Justru itu. Baru kenal 2 mingguan padahal. Masa katanya kalo smsan udah kayak reporter."
"Oia? Gimana gimana? Ceritain."
"Iya katanya suka dianterin. Terus cowoknya maksa. Harus pulang bareng dia. Terus juga katanya smsin nanya alamat lengkap, hobi, makanan kesukaan, gitu gitu."
"Iiiih gak banget ya. Terus sama dia dijawab?"
"Kenceeeng bener. Getar dikit hpnya, langsung ditanggepin."
"Ngeri iiih!"
"Ana, lo kan sahabatnya dari kecil. Nasehatin gih. Kasian kan kalo diapa-apain."
"Ah Lisya mah keras kepala. Susah nasehatin badak mah! Biarin aja. Nanti juga kena batunya."

-----

Lisya masih saja terus-terusan membangga-banggakan lelakinya. Ia yakin sekali lelaki itu sangat tergila-gila padanya. Setiap saat ponselnya berdering dan tak lain-tak bukan kelakuan lelakinya itu. Seluruh sahabatnya sudah gerah mendengar tentang laki-matang-rambut-klimis-cincin-tebal!~ Hingga suatu hari...

"Aaaa... Robert. Robert!"
"Kenapa?"
"Dia PHP!"
"Pemberi Harapan Palsu gimana?"
"Iya kemarin gue smsin ke dia. Gua tanyain 'Kita udah lama deket. Aku pengen nanya kepastian. Aku capek kamu gantungin terus.' Gue ngomong gitu kan."
"Terus terus?"
"Terus dia jawab..'Kita kan baru deket sekian waktu. Aku gak mau terburu-buru. Aku mau baik-baik aja sama kamu.' Udah. Gitu doang!"
"Bahahhaa! Lo juga sih ngaco! Sinting itu mah namanya!"
"Terus sekarang mesti gimana, girls? Ah sumpah... Aku Pemudi yang tak akan pernah percaya lagi pada Lelaki!"
"Eh jangan.... Ahahaha. Emang enak. Centil banget sih!"
"Aaaa malu, na. Maluuu!"
"Siapa suruh, dikandani ngeyel sih. Tuh akibatnya! Lagian juga belum tentu dia yang ngasi harapan palsu, tapi emang kamunya yang udah kadung kepedean!"
"Terus sekarang musti gimana?"
"Ya gak gimana-gimana. Cukup tarik Sumpah Pemudi-mu barusan. Karena ucapan adalah doa!"
"Yakali gak dapet cowok-tajir-rambut-klimis malah ujung-ujungnya jeruk makan jeruk?" Ahahaha. Tawa teman-temannya makin membuatnya nelangsa. Sial.

Lomba Esai Viaduct

Hola-halo! 
Buat teman-teman yang mencintai dunia tulis-menulis, ada 1 lomba yang bisa jadi ajang buat kalian unjuk bakat! 
Aha... 
Lomba Menulis Esai yang diadakan oleh Viaduct Unika Atma Jaya Jakarta dengan tema : "Pemuda di Garis Depan" &
subtema : "Pandangan Pemuda terhadap Kearifan Lokal terkait Perkembangan Zaman"

Ayo... tunjukkan naskahmu & jangan biarkan ia menjamur di lemari, buku & komputermu! :3

Jangan terjebak oleh deadline yang ini! 

Ada perpanjangan...yipppieee!
Kategori Peserta:
a.Siswa SMA/MA/ sederajat
b. Mahasiswa (D1 – S1) dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek
Tema:
"Pemuda di Garis Depan",  
dengan sub tema  :
"Pandangan Pemuda Terhadap Kearifan Lokal Terkait Perkembangan Zaman"
5 orang finalis dari tiap kategori akan dihubungi Panitia dan diudang untuk mempresentasikan esai mereka di depan Dewan Juri 9 November 2012 di Gedung Yustinus 15 UNIKA Atma Jaya Jakarta
Penghargaan & Hadiah:
Juara 1: uang tunai 1.000.000 + sertifikat
Juara 2: uang tunai 750.000 + sertifikat
Juara 3: uang tunai 500.000 + sertifikat
Juara Harapan 1: uang tunai 250.000 + sertifikat
Juara Harapan 2: uang tunai 200.000 + sertifikat
Pengiriman Esai
Tiap pengiriman dilengkapi dengan biodata lengkap penulis (nama, alamat, telp, sekolah/universitas/organisasi)
Esai dikirim soft copy ATAU hard copy
-Soft copy: melalui email dgn format .pdf atau .doc / .docx ke esai_viaduct @yahoo.com (subjek email: Nama Lengkap_ Univ/Sekolah/Organisasi_No HP. Sertakan softcopy kartu pelajar/kartu mahasiswa dan bukti transfer
-Hard copy: ke Sekretariat Viaduct UNIKA Atma Jaya, Gedung BKS 008 Jalan Jend. Sudirman 51 Jakarta Selatan & sertakan fotokopi kartu pelajar/mahasiswa dan bukti transfer
Ketentuan:
1.Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan/saduran
2.Esai tidak mengandung SARA dan atau pornografi
3.Tiap peserta mengirim 1 (satu) naskah
4.Naskah sesuai dengan format EYD, menggunakan font Times New Roman 12 pt, spasi 1,5, margin kiri-kanan-atas-bawah 3cm, panjang tulisan 3-8 halaman (ukuran kertas A4)
5. Masa pengiriman dari tanggal 15 September – 31 Oktober 2012
6.Biaya pendaftaran Rp 25.000
7. Pembayaran melalui rekening
a. Mandiri 900-00-0216048-0 atas nama Callistasia Anggun Wijaya
b. BCA 44-113-150-23 atas nama Parlindungan Ramses Jonathan
8. Konfirmasi pengiriman esai dengan SMS ke 083873857856 dengan format: ESAI(spasi)NAMA PENULIS (spasi) KATEGORI (spasi) JUDUL TULISAN
Contact Info:
Ramses: 0856-1400-170
Callistasia : 0838-7385-7856
Sumber : viaductpress.com

*Tulisan ini telah dimuat di lombamenulis.tumblr.com

Kamis, 18 Oktober 2012

Roket


"Imah, nanti kalo koranku laris, aku mau beli roket!", ucap Budi kala mengusap keningnya yang berpeluh.
"Roket itu apa?", tanya si bocah perempuan enam tahun sembari merapikan tumpukan koran dagangannya.
"Ah kamu! Jual koran, tapi gak pernah dibaca. Kata Abah, orang miskin gak boleh bodoh!"
"Oia, memangnya kenapa?"
"Kalo bodoh nanti semakin ditindas orang!"
"Ditindas itu apa?"
"Kamu ini! Ah sudahlah. Yang penting doakan aku ya supaya cepat kaya lalu belikan kamu roket. Biar kita jual korannya tinggal disebar dari langit."
-----

Sepuluh tahun berlalu, Budi dan Imah masih juga berdiri di simpang jalan Tugu Pancoran menjajakan koran.
"Budi, kapan ya kita kaya raya?"
"Untuk apa?"
"Kamu gak capek cuma duduk dan melihat orang menikmati harta miliknya?"
"Percuma kaya kalau tidak bahagia!", jawab Budi tegas.
"Tinggal di gubuk tua tanpa masa depan yang pasti apa itu bahagia?"
"Ahahaha! Kamu baca dari mana kutipan itu?"
"Tidak! Itu opiniku sendiri. Kan katamu orang miskin gak boleh bodoh! Ahahaha! Enak ya jadi orang kaya. Mau apa-apa bisa. Bakar duit juga bisa. Berperang misalnya!"
"Nah! Apa? Bakar duit? Ah kita yang miskin juga bisa!"
"Hah?"
"Berapa rupiah yang Abah bakar dari setiap puntung rokok yang dinikmatinya?"
"Yeee bukan kekayaan seperti itu yang aku maksud."
"Lalu apa? Berjibun harta juga percuma jika hati tak pernah bisa bahagia!"
"Tau darimana kamu mereka tak bahagia?"
"Terjerat kasus korupsi, mabuk-mabukan sampai pagi, saling sikut dan curiga, apa kamu pikir mereka bahagia?"
"Tapi bukankah tanpa harta, bahagia itu juga sulit jadi nyata?"
"Ah itu kata kamu sendiri saja. Aku bahagia! Aku punya kamu dan itu sudah lebih dari cukup!"
"Maksudmu, kamu akan menikahiku?"
"Jika Ia mengijinkan, pasti akan aku lakukan. Tapi masih ada satu hutangku yang belum kulunasi."
"Apa itu?"
"Membelikanmu roket. Agar kita tak perlu susah-susah berpeluh lagi menjajakan koran. Dan agar aku dapat membawamu berjalan jauh menikmati masa muda!"
"Ahahaha.... Berarti kamu pun tak dapat hidup tanpa harta!"
"Apa roket butuh harta? Ah... para penguasa! Berilah hambamu ini uang untuk membahagiakan kekasihnya! Ahahaha!"
"Hmmm itu lagunya siapa ya...? Iiih! Curang kamu! Itu ngutip lirik lagu kan?"

Kisah Indah


"Lo tau mbak-mbak yang biasanya nganterin makanan di warung Ayam Penyet kan?"
"Iya. Itu gimana sih kisahnya?"
"Parah! Nih... jadi gini ceritanya."

Ini adalah kisah tentang dua anak manusia yang miskin harta namun kaya akan makna. Kisah cinta kaum kelas bawah. Indah nama perempuannya. Ia bekerja di kantin kampus sebagai pramusaji. Usianya kala itu baru 19 tahun. Bukan main batinnya ketika melihat remaja sebayanya sibuk bergurau, belajar dan menikmati hidup seakan tanpa beban. Sedangkan dirinya adalah tulang punggung keluarga bagi adik satu-satunya, Bejo. Joko adalah seorang tukang parkir kampus. Keduanya adalah sepasang kekasih.

"Biasanya kan mbak-mbak sama mas-mas gitu kisah cintanya alay!"
"Hush! Kurang ajar sekali mulutmu. Jaga ucapan."
"Woooi sok tau lo pada! Justru kisah cinta ini lebih mahal dari apapun juga."
"Oia?"
"Kok bisa?"

Suatu kabar berhembus di lingkungan kampus yang dianggap sebagai sarangnya para mahluk-mahluk akademis. Moral adalah harga mati bagi para penghuninya.

Sebuah peristiwa baru saja mengegerkan kampus. Pada malam sebelumnya diadakan kegiatan persiapan untuk acara ospek kampus. Semua orang sibuk. Semua orang punya kepentingan masing-masing. Kampus tak sesepi malam-malam biasanya.

Ketika hari mulai subuh, semua penghuni kampus, terutama para panitia kegiatan ospek mulai bangun dari tidur singkatnya dan mempersiapkan segala sesuatu. Semua heboh, ribet dan panik. Hanya dua insan manusia yang tidak terpengaruh akan hal itu. Joko dan Indah.

Joko sibuk mencari dimana kekasihnya itu berada. Ia cari kesana kemari, namun tak ada seorangpun yang peduli. 'Anak pejabat mana kekasihmu itu sehingga kami semua harus turut mencarinya?' Cibiran bertubi-tubi diteguk Joko. Kemanapun Joko mencari tetap tak ia temukan kekasihnya itu.

"Emang kemana deh itu mbak?"
"Lo! Belajar mendengar makanya! Main asal nyela aja!"
"Ok.. ok.. Terusin!"

Para perempuan sedang sibuk mandi dan merapihkan diri. Berulang kali pintu kamar bergantian dibuka-tutup. Hanya satu pintu yang tak kunjung terbuka. Namun tak ada yang perduli. Semua sibuk dengan kesibukannya masing-masing.

"Jangan-jangan si Indah emang disitu lagi?"
"Ah... sial! Kenapa harus ditebak dari awal sih? Gue kan ngebet banget pengen lanjutin cerita ini!"
"Ah kelamaan lo! Straight to the point aja. Intinya!"

Indah adalah korban kekerasan salah seorang petugas keamanan di kampus mereka. Tak hanya itu, tiga bulan belakangan baru disadari bahwa tubuh indah yang mungil itu perutnya mulai tampak membuncit. Entah perbuatan siapa. Indah tak pernah mau membuka mulutnya.

"Joko lah palingan!"
"Salah! Justru kalo bisa sekarang gue berdoa sama Tuhan semoga dikasi cowok macem Joko!"
"Ndeso, katrok, kumuh?"
"Don't judge a book by its cover, dear!"

Para dosen, staf kampus dan semua penghuni kampus merasa iba padanya. Bahkan sang rektor yang mendengar desas-desus ini langsung memerintahkan beberapa dosen yang juga adalah advokat untuk mendampingi Indah menyelesaikan masalahnya hingga tuntas.

"Langsung ke inti, please! Ealah masih aja berbelit-belit. Intinya intinya?"
"Joko mau mengawini Indah. Joko yang ingin bertanggung jawab atas kandungan Indah."
"Nah kan! Udah ketebak dari awal. Alibi doang. Sok-sok bingung nyariin, padahal dia juga yang nyakitin!"
"Sotoy lo kayak dukun!"
"Lah terus?"
"Itu bukan anaknya Joko. Anak si satpam yang malam itu dikasi bir sama mahasiswa-mahasiswa yang lagi begadang. Efek mabok. Nyiksa orang. Nyakitin orang. Dan karena Indah terlalu lemah...ya habislah dia!"
"Jadi... Joko... bertanggung jawab atas hal yang bukan perbuatan dia?"
"Atas nama cinta!"

Indah nampak mulai sumringah. Semua orang menyukai keadaan itu. Usia kandungan Indah sudah memasuki usia tujuh bulan dan ia masih saja rajin bekerja di kantin kampus. Karena bosan di rumah dan ingin terus bersama suami, alasannya.

"Lah, masih bersambung? Bukannya udah happy ending tadi?"

Suatu hari Joko sedang membawa tangga yang hendak digunakannya untuk mengganti bohlam di salah satu ruang kelas. Seharusnya itu menjadi tugas office boy, namun tidak ada yang tau pasti kenapa hari itu Joko yang melakukannya.

Malang nasib Joko saat ia membopong tangga tersebut, ternyata ujung tangganya menyenggol tumpukan batu bata sisa renovasi. Habis nyawanya disitu. Indah yang mendengar kabar itu seketika tak kuasa menahan kepedihan atas kehilangannya yang begitu mendalam.

"Gimana endingnya?"
"Lo mah perusak suasana! Berhenti bertanya dan coba dengarkan!"
"Iya iya maaf."
"Iya rese tau gak lo nanya-nanya melulu!"
"Ok...capek juga cerita kepanjangan, bikin haus tenggorokan. Intinya...."
"Apa?"
"Indah ikut menyusul sang suami. Bersama si bayi juga."
"Bunuh diri?"

Rabu, 17 Oktober 2012

Bahagia itu Sederhana


"Tiara kenapa?", tanya Roland polos.
'Ah tau apa dia. Si cupu yang tiap hari hanya sibuk dengan dunianya sendiri.'
"Tiap hari aku liat kamu selalu murung. Kenapa kamu tak pernah nampak ceria?"
"Lo bawel banget sih! Bisa diem gak? Berisik!"
"Aku cuma nanya. Emang salah ya?"
"Ngomong sekali lagi gue gampar ya!"
"Cewek kok galak banget. Makin gak punya temen loh nanti kamunya!"
"Bacot! Sana lo!"

-----

"Ibu ampun bu! Ampun. Jangan siksa Tiara. Ini aku bu, Tiara. Bukan Bapak. Ibu sakit!", jerit Tiara.
Ibu tak menjawab malah makin beringas. 
"Ibu Tiara mohon bu! Sakit! Ampun bu!"
"Perempuan simpanan ya kamu! Berani-beraninya rebut suami saya! Dasar perempuan tak tau malu! Mati kamu!"
"Ibuuuu! Ini Tiara. Sumpah bu. Ampun.", Tiara mulai tak berdaya. Ibunya semakin keras menjambak rambutnya. Air mata mulai menetes dari pipinya.

------

"Selamat pagi Tiara!", senyuman polos Roland menjadi sambutan baginya kala memasuki ruang kelas pagi itu. Tiara tak menjawab. Ekspresinya datar. Roland membetulkan letak kacamatanya besarnya. Ia garuk rambut kribonya salah tingkah.
"Tiara, kok diam aja! Eh, kamu abis kejedot ya? Itu jidatnya kenapa biru?"
"Pergi lo!"
"Tiara kok galak banget sih? Roland kan cuma mau berteman."
"Najis! Dih!"
"Tiara gak boleh begitu. Dosa tau!"
"Masih aja percaya soal dosa. Tuhan itu gak ada!"
"Tiara! Ralat ucapanmu. Gak baik."
"Kalo Dia ada...gak mungkin..." kalimat Tiara menggantung.
"Apa?"
"Enggak! Udah sana!", Tiara seperti kembali mendapat kesadarannya.

-----

"Alex maaf lex. Aku minta maaf. Sumpah!"
"Ah...sana lo! Males gue punya pacar kayak lo terus. Udah! Jenuh gue!"
"Alex... sumpah maaf lex! Aku janji. Aku gak bakal kayak gitu lagi!"
"Bodo! Lo ngerti bahasa Indonesia kan? Gue jenuh!" 
Tiara segera memeluk kaki lelakinya.
"Apaan sih lo! Norak. Sinetron banget! Minggir!", dorong Alex kasar.
"Alex... Maaf lex!" Berkali-kali Tiara meminta maaf dan berkali-kali pula Alex memukulinya. 

Tanpa keduanya sadari, Roland melihat semuanya dan merekam dalam benaknya sendiri. 

-----

Roland dan Tiara adalah teman sebangku.
"Tiara..." 
"Kemarin... Roland ikutin Tiara sampai rumah!" aku Roland takut-takut.
"Ngapain lo ngintilin gue sampe rumah?"
"Ampun ampun Tiara. Dengerin dulu."
"Lo makin lancang ya lama-lama!"
"Tiara... maaf. Tapi ... menurut Roland, pacar Tiara itu bukan cowok baik-baik!."
"Diem!"
"Kenapa gak cari yang lebih baik aja sih? Atau nikmati aja dulu kesendirian. Senang-senang!"
"Gue bilang diem!"
"Tiara... Roland emang naif. Gak mudeng banyak hal. Tapi yang Roland tau, kebahagiaan itu dimulai dari diri sendiri."
"Gak usah bahas kebahagiaan. Gak ada itu kalimat di kamus gue!" Tiara mulai melunak.
"Coba Tiara ceritain. Justru karena Roland terlalu naif, bukannya bisa lebih dipercaya ya? Ehehehe!"
"Apa yang mau diceritain? Kisah hidup gue? Ahahaha... panjang land. Berliku. Lebih ribet dari rambut kribo lo!"
"Oia? Ehehhee. Gak apa-apa. Roland bakalan dengerin kok. Lagian Bu Gultom kan gak masuk hari ini. Jadi kelas kita kosong, gak ada guru. Dua jam + waktu isitirahat cukup kan?"
"Ahahaha... masih aja mikirin gituan. Roland.. Roland! Ok. Mau denger apa? Kemaren lo ngintilin gue sampe ke rumah kan? Lo liat gimana nyokap gue? Dia gila. Beneran gila. Stress ditilang kabur Bapak. Bapak penggangguran, kerjanya judi, mabok, maen perempuan. Ibu 5 tahun di Arab jadi TKW, jadi tulang punggung keluarga, pulang-pulang gak sanggup ngadepin Bapak. Abis menang judi, Bapak malah tinggal sama selingkuhanya. Untung mbah masih hidup. Dia tinggal gak jauh dari rumah, dia yang bayarin uang sekolah gue. Kiriman Pak Le', masalah dipake biayain gue. Ahahaha!"
"Astaga... rumit sekali ya kisah hidupnya Tiara. Terus?"
"Gue punya pacar. Dia harapan gue. Gue selalu bermimpi, suatu hari dia nikahin gue dan bawa gue lari yang jauh dari kenyataan hidup ini. Nyatanya? Gue cuma mainan buat dia. Tapi gue selalu ngerasa, gak akan ada cowok lain yang bisa nerima keadaan gue yang udah di dasar lumpur gini, land."
Ada keheningan di antara mereka. Roland kembali bertanya,"Lalu?"
"Udah gitu doang?"
"Beneran?"
"Oo."
"Kok cuma oh? Ngebosenin ya? Ahahaha! Abis ini mau diceritain kemana?"
"Maksud Tiara? Roland gak mudeng."
"Biasanya kan orang suka kepo, cuma jadi bahan buat cerita sama orang lain."
"Ahahaha... Tiara tau sendiri kan Roland cupunya kayak apa. Tapi Roland seneng sih sama keadaan ini. Gak dibikin ribet sama temen. Ehehehe."
"Dasar...ahahaha! Gantian lah land. Gimana kisah lo?"
"Ah kisah Roland mah gak seru. Gak ada maknanya."
"Tapi seengaknya lo masih bisa ngerasain bahagia kan? Hidup dari keluarga kaya raya. Segalanya serba ada. Lah gue? Udah miskin harta, miskin bahagia pula. Ahahaha. Land, gue bersumpah. Kalo gue sampai bahagia, itu pasti gue mati!"
"Kok gitu? Hush, jangan ngomong gitu ah! Takabur!"
"Karena memang itu nyatanya. "

-----


-6 bulan kemudian-

"Tiara! Tiara liat deh Roland bawa apa." teriak Roland heboh.
"Apaan?", sahut Tiara datar. Namun kali ini Roland sudah terbiasa dengan sikap angkuh sahabat barunya.
"Buku!"
"Sejak kapan lo ke sekolah gak bawa buku?"
"Ih tapi ini beda. Nih!" Roland mengeluarkan sebuah amplop besar dari tasnya.
"Apa ini?"
"Buka aja!" Tiara membukanya.
"Novel? Duit? Terus maksudnya? Udah ah, gak ada waktu gue sama mainan lo!"
"Hush, baca baik-baik dulu. Liat cover bukunya. Siapa nama pengarangnya?"
"Roland Saputra."
"Iyaaap! Jangan marah ya Tiara. Roland terinspirasi dari cerita Tiara waktu itu. Roland bikin jadi novel. Biar bisa menginspirasi banyak orang. Dengan belagunya Roland kirimin ke penerbit mayor. Kirain ditolak. Gataunya diterbitin. Ehehehe."
"Serius? Selamat ya Roland."
"Iya. Eia, satu lagi. Jangan marah ya. Uangnya buat Tiara aja. Kan ini ceritanya Tiara. Roland cuma menceritakan kembali aja. Lagian... jangan tersinggung ya. Tiara sendiri yang bilang Roland udah punya materi. Ehehehe!"
"Ahahahaa! Siapa yang mau nolak duit land! Eh tapi... doain aja ya semoga ini bukan pertemuan terakhir kita."
"Kok gitu?"
"Karena gue pernah bersumpah. Gue akan mati kalo gue bahagia. Dan hari ini, sumpah mati gue bahagia punya sahabat kayak lo!"
"Tiara....Sahabatnya Roland. Horrray!" spontan Roland memeluk Tiara.