CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 06 Februari 2016

Faizal Iskandar!



Entah sejak kapan aku mulai mengagumi lelaki pemilik akun twitter @monstreza ini.
Yang jelas, kekagumanku ini ibarat Harry Potter freak yang begitu menantikan karya-karya teranyar JK. Rowling.

Faizal Iskandar, lelaki yang selalu menggambarkan cinta melalui caranya. Lelaki  yang membuatku mencari tahu makna petrichor dan rasanya. Lelaki yang membuatku kagum, tanpa perlu melihat bagaimana ia tersenyum. Hanya melalui serangkaian kata, semata-mata umpatannya pada cinta.

Tak pernah sekalipun aku bertatap muka dengannya. Tapi justru disitulah tingkat kekagumanku padanya teruji. Tak pernah teringat juga kapan aku mulai mengagumi sosoknya. Lelaki yang tak banyak bicara (sepertinya) tapi mampu memikat hanya dengan beberapa kata.

Setiap cerita yang dibuatnya juga tak pernah menggunakan narasi yang berlebihan. Mengalir apa adanya. Terluka teramat jelasnya. Dan hasrat yang kadang jadi topik utamanya.

Ah... Entah kenapa aku benci ketika terkadang membaca beberapa tulisannya yang lagi-lagi menggambarkan birahi belaka. Bagiku, pengagum beratnya, Faizal Iskandar tak butuh bumbu peluh berbaur rengkuh & lenguh agar tulisannya terus diburu. Ia sensual dengan gaya tulisannya sendiri. Tanpa perlu mengumbar keindahan tubuh sepasang kekasih yang tengah menari dalam cinta.

Tulisan-tulisannya tak pernah bisa aku pahami untuk dikategorikan sebagai apa. Aku tak suka mengatakan ia penulis cerpen, narasi, puisi, atau entah apa. Bagiku, tulisannya berarti tahi di otaknya yang keluar untuk melegakan isi hatinya.

Ia selalu membicarakan perihal cinta : ketidakmampuan untuk bersama, perbedaan yang jadi jurang pemisah utama, aroma sehabis hujan, kopi, bartender, konsep pernikahan yang sebatas dongeng belaka, rasa yang tak pernah terungkap dan segala bentuk duka penuh laknat lainnya.

Entah dari pengalaman pribadinya, dari pengalaman orang lain yang diceritakan padanya, atau sekedar fantasinya belaka... Entah. Apapun bentuknya, aku mengaguminya. Apa adanya.

Faizal Iskandar, sosok yang tak perlu kau tatap matanya, kau dengar bisiknya, atau kau rasakan aroma minyak wanginya...tapi sanggup membuatmu selalu mau dan mampu menikmati setiap rangkaian kata yang ditulisnya. 

Berikut kusampaikan beberapa kata pada penulis favoritku : 

“Kepada seorang lelaki penakluk kata yang dimana kekaguman kusematkan padanya... Sampai kapan kamu terus mengutuki dirimu untuk luka-luka yang dicipta orang lain bagimu? Mungkin kita tak pernah saling kenal, tapi penggambaranmu akan duka teramatlah binal. Teruslah menulis, dan lukislah lukamu melalui aksara. Karena ada pembaca yang selalu mengagumimu. Dalam luka, maupun bahagia. Mujur hingga terbujur. :)”  

Oiya perihal membayangkan menjadi pasangannya...rasanya lebih tepat dikatakan bahwa aku jatuh cinta pada deretan sosok laki-laki penuh karisma, yang bertahan atas nama cinta dan setia pada satu nama di setiap karya-karyanya. Tapi bicara mengenai menjadi pasangan dari penulis yang aku kagumi? Ah.. Aku mendamba pada aksara, pada kata, pada cinta. Haruskah dipaksa berimajinasi dengan pelakunya bila jatuh cinta pada setiap pemikirannya sudah terasa cukup bagiku?

Ahaha. Ok...ok! Bila suatu hari aku mendapatkannya, maka hal yang akan aku lakukan padanya adalah membuatnya berhenti mengutuki hidup.
Karena hidup hanya sekali.
Karena luka hati haruslah dipulihkan kembali. :D

Dan bagiku, sampai kapanpun, Faizal Iskandar tetaplah seorang lelaki misterius yang pandai bicara cinta dengan serius. ;)




-Lopinta Rumengan-


*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti #30HariMenulisSuratCinta @PosCinta. :)

Kamis, 04 Februari 2016

Barista Berkhianat


Aku duduk di tempat kita biasa bercengkrama
Dengan harapan, aku akan lebih bahagia
Dari dulu aku selalu menanti hari ini
Datang ke sini, tanpa kamu di sisi
Tapi ternyata semuanya malah berbeda
Tak lagi seperti rasa yang pernah ada.

Sepi
Hampa
Ahahaha harusnya aku tak kesini.

Aku memulai awal hari dengan mendatangi tempat yang penuh nostalgia.
Kita
Yang dulunya sangat menunggu hari ini.
Tapi apa daya. Semua telah berakhir.
Habis!

Tak kehabisan akal, aku mendatangi tempat lain.
Beruasaha mencari damai.
Dari sebuah kepedihan bernama sepi.
Lagi-lagi ditemani segelas kopi.

Meski diawali dengan senyum ramah sang barista,
Tetap saja tak sama.
Kopinya hambar.
Lidahku kelu, tak tahu lagi mana rasa yang bermutu.
Ini bukan kopi yang aku mau.
Aku bahkan tak pernah lupa akan rasa kopi milikku. Karya agung sang baristaku.

Tapi apa daya baristaku telah berkhianat.
Membuat kopi dengan rasa yang paling laknat.
Aku bahkan tak pernah mau sentuh kopinya kini meski digombali dengan janji akan sebuah nikmat.
Aku hanya mau kopi baristaku.
Yang dibuatnya khusus untukku.



*Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi di @PosCinta.
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 03 Februari 2016

Untuk Sebuah Nama Yang Kusebut Rumah Lama



Untuk sebuah nama yang kusebut rumah lama... Apa kabarmu disana?
Ada satu hal yang harus aku sampaikan, namun hanya mampu sebatas tulisan.

Untuk sebuah nama yang kusebut rumah lama, kemana pun aku pergi, atau kapan pun aku merasa sendiri... Aku hanya perlu memejamkan mata. Dan barisan memori bagai hembusan angin, membawa aku ke sebuah tempat yang kini tak lebih dari suatu persinggahan, rumah lama.

Untuk sebuah nama yang kusebut rumah lama, rindu tak pernah pudar. Meski kita tak lagi bersama, namun rangkaian namamu masih menyisakan debar. Katanya, cinta itu tak kenal kata sabar. Ah... Itu hanya alasan mereka yang tak tahu apa arti berjuang, dan berakhir dengan pulang. Ke satu tempat yang bukan akhir tujuan.

Untuk sebuah nama yang kusebut rumah lama, apakah cukup sebaris doa kupanjatkan pada Dia yang katanya Maha Esa, namun justru memecah berai atas nama beda?

Untuk sebuah nama yang kusebut rumah lama, biar kubasuh segala debu yang menempel pada dinding-dindingmu. Izinkan aku kembali ke dalam dekap hangat perapian rumah lamaku.
Dimana selalu ada secangkir kopi hangat selalu sigap menyambut. Dan memeluk erat sampai lupa aku pada penat.

Tertanda,



Si Empunya Rumah


*Tulisan ini dibuat dalam rangka bentuk partisipasi di @PosCinta.
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 12 Januari 2016

It's About Your Style, Not What You Write!


Menulis adalah sebuah proses dimana imajinasi, gagasan, insprirasi dan ide direalisasikan kedalam bentuk tulisan.  Dengan kata lain merubah sebuah konsep abstrak menjadi sesuatu yang kongkret.  Maka dari itu menulis bisa disebut dengan istilah proses kreatif.

Menulis bukanlah sebuah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, semua umat manusia di muka bumi bisa menjadi penulis.  Asalkan memenuhi dua syarat, mengenal abjad dan mampu membaca.  Karena bila tidak menguasai keduanya, yang tertoreh dikertas hanyalah goresan-goresan abstrak yang mungkin hanya dapat dimengerti oleh sang pencoret.

Sebut saja beberapa penulis papan atas seperti Dan Brown, JK Rowling, Stephenie Meyer, atau Andrea Hirata. Apa yang membuat mereka mampu mencapai kesuksesan? Tulisan macam apa yang telah mengubah mereka menjadi jutawan? Atau mungkin terlalu jauh bila kita melontarkan pertanyaan seperti itu.  Bila semua dimulai dengan beberapa pertanyaan sederhana mungkin akan seperti ini.  Siapa mereka? Penulis. Apa yang mereka tulis? Fiksi, Novel. Dan apakah kita bisa seperti mereka? BISA! Maka dari itu, tidak ada perbedaan antara penulis terkenal dan penulis biasa, bahkan dengan orang yang sedang belajar menulis, karena bila otak kiri dan kanan kita mampu mengolah imajinasi, gagasan, insprirasi, dan ide dengan baik, maka semua itu akan mengalir dengan begitu natural dan menggerakan jari-jari kita untuk merealisasikan apa yang ada dalam pikiran kita.

Namun permasalahannya adalah, mengapa hanya segelintir orang yang terlihat menonjol dalam aktivitas menulis bila semua orang memang bisa menulis? Bahkan perbandingannya sangat tidak berimbang antara penulis aktif dan penulis non-aktif. Penulis non-aktif tentu saja jumlahnya lebih banyak daripada penulis aktif. Penulis non-aktif adalah penulis yang kurang produktif dalam aktivitas menulis, dan sekalipun mereka menulis, karya mereka hanya untuk dinikmati sendiri, seolah-olah mereka memuaskan diri dengan karya mereka sendiri. Hal inilah yang memberikan kesan bahwa menulis itu sulit.

Bila kita telusuri sumber permasalahannya, sulit bukanlah alasan manusia untuk tidak melakukan aktivitas menulis. Tapi ada faktor-faktor lain yang membuat isi kepala mereka stuck. Faktor yang pertama adalah rasa malas. Ini adalah alasan klasik yang tidak hanya terjadi dalam aktivitas menulis. Rasa malas tentunya sangat berpengaruh dalam mengukur takaran produktifitas dalam menulis. Maka dari itu, dibutuhkan tekad dan niat yang kuat untuk menumbuhkan semangat menulis dalam diri kita agar rasa malas dengan perlahan menghilang. Mulailah dari diri sendiri karena hanya diri sendirilah yang dapat mensugesti penuh setiap gerakan-gerakan yang kita lakukan, termasuk merubah perilaku.
Setelah faktor pertama dapat diatasi, faktor kedua adalah bagaimana cara menangkap inspirasi atau gagasan? Yang dibutuhkan untuk mengatasi hal seperti ini adalah dengan cara mengaktifkan seluruh indera untuk merasakan kepekaan dititik terpeka. Biasanya berawal dari apa yang kita lihat, lalu kita rasakan, kemudian merambat kedalam pikiran kita, setelah itu gagasan atau inspirasi pun tercipta dan akhirnya jari-jari kita tergerak untuk mencurahkan apa yang ditampung oleh pikiran kedalam bentuk tulisan.

Namun satu hal yang harus disadari bahwa menangkap inspirasi atau gagasan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Setiap penulis pasti mempunyai cara tersendiri untuk menciptakan inspirasi yang siap diracik kedalam bentuk tulisan. Biasanya dalam hal ini, situasi dan kondisi memberikan pengaruh yang sangat besar. Metode yang sering saya lakukan adalah melakukan interaksi sosial seperti berkomunikasi atau melihat lingkungan sekitar. Hal seperti ini harus dilakukan secara totalitas, karena apa yang akan kita tulis adalah apa yang akan kita banggakan dan pertanggung jawabkan nantinya. Setelah itu, inspirasi yang kita dapat harus melalui tahap pematangan konsep dimana suatu gagasan yang kita pilih akan dipetakan agar hasilnya tidak meluas. Ini menekankan agar spesifikasi masalah ataupun anglepenulisan lebih terkerucutkan sesuai dari segi mana gagasan tersebut akan kita bedah.

Dan setelah semuanya siap untuk diracik kedalam bentuk tulisan, hal yang pertama harus kita pikirkan adalah suasana yang nyaman untuk menulis.  Namun suasana seperti apakah yang membuat orang dapat merasa nyaman untuk menulis? Tentu saja bukan suasana yang chaos yang dimaksud. Beberapa alternatif biasanya menjadi pilihan para penulis dalam menciptakan suasana nyaman untuk menulis. Misalnya dengan cara melakukan aktivitas menulis ditengah malam seperti yang sering saya lakukan.  Suasana yang benar-benar tenang dan tanpa gangguan suara sedikit pun sangat membantu untuk memperlancar proses menuangkan gagasan kedalam bentuk tulisan. Metode lain yang juga sering orang lakukan adalah dengan cara memutar musik relaksasi atau semacam intrumental saat kegiatan menulis dilakukan. Namun bagi sebagian orang metode seperti ini hanya akan memunculkan rasa kantuk, termasuk saya yang tidak bisa fokus untuk menulis bila ada alunan musik. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri apabila setiap orang mempunyai metode tersendiri dalam menuangkan gagasan kedalam bentuk tulisan.  It’s just about style!

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam menulis. Namun satu hal yang harus dipegang teguh adalah menjadi diri sendiri. Ekspresikan karyamu sesuai dengan gayamu. Karena penulis harus mempunyai karakter tersendiri yang membuat karya tulisannya khas dan apa adanya. Karya sangat berpengaruh dengan gaya. Maka jadilah diri sendiri, janganlah menjadi orang lain. Bila kita menjadi orang lain, karya yang kita hasilkan pasti akan terasa asing dari diri kita sendiri.

Dan bila karya tulisan sudah jadi. Publikasikan dalam berbagai bentuk yang dapat membuat orang membaca karya kita. Karena karya tulisan adalah sebuah kebanggaan bagi penulis. Banyak cara untuk mempublikasikannya.  Bahkan di era seperti sekarang ini bukan sesuatu yang sulit untuk mempublikasikan tulisan. Kecanggihan teknologi sangat membantu untuk mempublikasikan karya kita. Apalagi sekarang sedang gencar-gencarnya citizen jurnalistic yang menggunakan media blog untuk mempublikasikan karya tulisan. So do it right now!



*Written by : @GebyarGurabi, Producer ARDAN Radio Bandung
*This is so inspiring that's why I reposted it. Sorry & thankyou mas! :D



Sabtu, 09 Januari 2016

Bercerai dengan Kopi



Kamu seduhan kopi pertama dan terakhir dalam hidup saya.
Saya selalu benci pada kopi. Apalagi sepi.
Lalu kamu datang, menawarkan secangkir kopi dan jutaan mimpi.
Tentang kita. Tentang kamu dan saya.
Dan katamu, kopiku akan jadi lebih nikmat dengan taburan cokelat. Apalah.
Asal itu berasal dari barista pribadi saya, seketika saya percaya.

Selama ini kamu bilang saya yang dicari. Lalu kamu pergi. Melarikan diri.
Hanya karena tak punya nyali.

Ah.. entah!
Kenangan dan kehilangan selalu punya tempat dalam perjalanan kehidupan.
Kamu, laut dan kopi.
Barista pribadi saya. Ombak terbesar dalam hidup saya. Dan pahit termanis bagi saya.

Dasar maling! Datang, lalu berpaling. Meninggalkan pening, hening dan aku melawan sinting.
Dasar bajingan! Berani-beraninya menghamburkan harapan, angan dan meninggalkan sejuta kenangan.. lalu lepas tangan.
Dasar pencuri! Pergi meninggalkanku di sini sendiri.

Bertahan. Atau lepaskan.
Saya bukan pilihan.

Itu sebabnya saya bercerai dengan kopi.
Saya benci rasa sepi.
Sendiri.
Dan pahit.
Siapa butuh pahit?
Saya butuh kamu.
Bukan pahit.
Apalagi secangkir kopi.






*Inspired by : Lee Min Ho x Luwak White Coffee :D
*First poem in 2016 :))
















Jumat, 13 November 2015

Kayu dan Batu



Kayu itu ayu, tapi tak pernah seindah batu.
Kayu dapat kutemui dimanapun dan kapanpun aku butuh.
Tapi tak pernah sebernilai batu, kata Ibu.

Kayu dan batu sama-sama ditempah oleh waktu.
Tapi kayu seringnya tak sanggup menunggu.
Karena kayu selalu dirasa perlu.

Batu indah, mudah terjamah, dan tercipta demi bahagia jemaah.
Namun kayu, selalu tersedia sejauh manapun aku menjauh.

Kayu kurang bermutu, kata Ibu.
Dan masih kata Ibu, batu jauh lebih berarti untukku.

Tapi aku lebih suka kayu.
Meski tak dapat kupungkiri bahwa batu juga akan jadi sesuatu.

Meski Ibu tak pernah tahu.
Aku selalu menyimpan serpihan kayu.
Meski mungkin jariku harus tertusuk, dan Ibu bilang ia benda busuk,
tapi aku yang paling tahu apa yang hatiku mau.

Dan meski batu selalu tampak indah bagi Ibu, tapi tidak untukku.
Karena batu, tak lebih dari sebuah benalu, yang diselimuti selaput lucu.
Karena batu, kesukaan Ibu.
Karena batu, bukan kehendakku.

Ibu, jujur, masih saja aku menyimpan kayu.
Yang Ibu kira telah ia lama mati kutebang bagimu.




Selasa, 9 Agustus 2015
19:07 wib
Angkot 36 

Senin, 09 November 2015

Pulang



Kedai Kopi Kemang, 20:00 WIB

Aku harus pulang. Dengan atau tanpanya, aku tetap harus pulang.

"Sudah dimana nak?", suara Bunda ditelfon genggam mengintervensi senda gurau kami.

"Ini kejebak hujan, bun. Masih di Kemang Raya. Sebentar lagi sampai."

"Ok nak. Kabari kalau sudah dekat rumah, biar Bunda bukakan gerbang."


Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama
Tak bisa bersatu 


Kedai Kopi Kemang, 20:05 WIB

"Aku harus pulang mas. Bunda sudah menelfon."

"Pembicaraan kita belum selesai, Diana." Indra terus meyakinkanku.

"Sudah mas. Kita beda, gak ada jalan untuk bersama."

"Aku akan meyakinkan Ayah-Bundamu, Diana Rikasari. Aku janji." Andai kalimat itu diutarakan sejak 3 tahun yang lalu, mungkin akan berbeda hasilnya. Atau mungkin tetap sama? Atau mungkin rasa tetap ada dengan kisah kita yang tak akan jadi nyata? Atau mungkin tanpa mungkin?


 Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
Tapi kita dalam diorama


Jl, Pangeran Antasari, 18:30 WIB

"Aku jatuh cinta."

"Sama siapa?", tanya mas Indra dengan penuh kasih. 

"Tulus"

"Kenapa?" Pandangannya tetap fokus ke jalan, tapi aku tahu, setiap kata, kalimat dan paragraf yang keluar dari mulutku pasti akan didengarkannya dengan penuh seksama.

"He knows what I want. He wrote the song about us."

"Oiya? Apa?" 

"Teman Hidup"

"Ahaha. Kamu. Hmmm,... Nikah sama aku ya, Di." Tangan kiri mas Indra mengenggam erat tangan kananku. Sebelah tangannya masih menggengam lembut kemudi.

"Iya kita nikah. Kalau kamu dibaptis. Ahaha."

"Iya kita nikah. Kalau kamu jadi mualaf."

"Ahahaha dasar gak mau ngalah!"

"Ok, Kalau gitu, gini aja. Iya kita nikah kalau Tuhan mengizinkan kita bersama. Gimana?" ucap Mas Indra tegas sembari melingkarkan lengan kirinya di pundakku. Segalanya terasa indah, tanpa pernah terbayang kata pisah. Hujan sore hari. Dekapan hangat sepanjang jalan Antasari. Romansa tanpa henti.


Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia

Andara, 21:55 WIB

"Kok pulangnya malam sekali?", cecar Bunda setengah keki.

"Macet, Bun. Jakarta. Hujan. Banjir."

"Kamu pergi lagi ya sama lelaki itu?"

"Indra, Bun. Dia punya nama. Muhammad Indra Prabowo."

"Persetan! Diana, Tuhan menitipkan kamu ke kami, agar kami bisa mendidik kamu, nak. Merawat, membesarkan. Kenapa sekarang jadi suka melawan?"

"Aku gak melawan, Bun. Aku cuma mengikuti kata hati."

"Kata hati yang mana? Kamu lebih dengar lelaki yang baru kamu temui kemarin dibanding Bunda? Bunda ini yang melahirkan, membesarkan dan merawat kamu sampai sebesar ini, nak. Hargai bunda, ya sayang. Ingat nak! Kalau Bunda aja gak suka sama lelaki itu, apalagi Tuhan. Kalian berbeda. Susah nak 1 kapal diatur oleh 2 nahkoda."

Dan pada akhirnya, aku memang harus pulang. Aku terlalu pecundang untuk membangkang. Tak punya nyali untuk berjuang. Mempertahankan sesuatu yang disebut sayang.

"Iya, Bun, iya. Tadi juga cuma reuni SMP. Rame-rame. Gak berdua sama dia tok. Kita udah lama gak sama-sama, cuma kebetulan bertemu, lalu diantar pulang."


Cinta memang banyak bentuknya
Tapi tak semua dapat bersatu



*Lagu (Tulus) :- Sepatu
                            - Diorama
                            - Teman Hidup